Memahami Seni Memahami: Pengantar ke Hermeneutika Friedrich Schleiermacher

Rabu, 22 Maret 2017 , , ,

---catatan singkat atas Seni Memahaminya F. Budi Hardiman

Manusia mahluk simbolik. Begitu pendakuan scholar kebudayaan. Bahkan Clifford Geertz, antropolog abad 20 menyatakan, manusia adalah mahluk yang tidak lepas dari jebakan simbol. Lebih radikal lagi, Gertz mengatakan manusia dalam kehidupannya senantiasa dijerat makna-makna.

Itu artinya secara sosiologis interaksi manusia tidak terlepas dari cara mereka menangkap makna. Bagaimana diartikan dan diaplikasikan melalui hubungan tingkah laku antara sesama. Dengan kata lain, interaksi manusia hanya mampu dimungkinkan jika diperantai makna. Tanpa makna, hampir semua hubungan manusia dalam masyarakat mengalami defisit eksistensi dan tanpa arti.

Makna sebagai satuan pengikat yang memperantai komunikasi antar individu, komunitas, bangsa, agama, ras, kebudayaan dlsb., sangat rentan mengalami bias yang mendatangkan kesalahpemahaman. Disebabkan bentuk, tingkatan, situasi, tradisi, tempat, waktu, dan latar belakang pengetahuan, pemahaman begitu krusial dipertahankan akibat keadaan yang tidak sepadan. Itulah sebabnya, “memahami” sebagai konsep ideal dalam praktik keseharian begitu penting dibutuhkan.

Karena itu, melalui tulisan ini, memahami sebagai diskursus ataupun wacana akan mengambil percik pikiran Schleiermacher tentang hermeneutika demi kebutuhan membangun cara pandang baru dalam memahami kehidupan beserta dinamikanya.

Apa itu hermeneutika?

Secara etimologik, hermeneutika terkait dengan Hermes, tokoh mitologi Yunani yang bertindak sebagai utusan dewa-dewa dalam menyampaikan pesan ilahi kepada manusia. Sebagai perantara pesan bahasa dewa-dewa kepada alam berpikir manusia, Hermes memiliki keahlian memahami bahasa dewa-dewa dan kemudian menerjemahkan maksud yang diinginkan dewa-dewa dengan ungkapan bahasa manusia.

Kemampuan memahami yang dimiliki Hermes dinyatakan F.Budi Hardiman memiliki kerumitan tersendiri. Pertama, pihak yang menyampaikan pesan harus memahami pesan yang dibawanya. Kedua, agar maksud pesan dapat disampaikan, sang pembawa pesan harus membuat artikulasi yang sesuai dengan maksud pemberi pesan. Kesenjangan yang terbentang antara pemberi pesan, penyampai pesan, dan penerima pesan inilah yang nantinya menjadi medan kerja hermeneutika.

Sementara apabila diasalkan kepada arti Yunaninya, hermenueuein, hermeneutika berarti “menerjemahkan” atau “bertindak sebagai penafsir”. Di dalam kegiatan yang bersinggungan dengan teks, hermeneutika berarti kegiatan mengungkap dan menyingkap makna sebuah teks. Sementara yang dipahami teks di sini adalah jejaring makna atau struktur simbol-simbol yang tertuang entah dalam bentuk teks ataupun bentuk lainnya.

Dengan kata lain, sebagai sebuah jejaring makna, teks juga dapat diartikan dalam bentuk sikap, perilaku, tindakan, norma, benda kebudayaan, hukum, ideologi, dlsb.  Sebagai sebuah makna yang ditangkap manusia, semua yang disebutkan sebelumnya, bahkan kebudayaan, agama, politik, masyarakat, dan negara adalah teks itu sendiri.
 
Biografi singkat

Pendakuan Schleiermacher sebagai filsuf masih agak rentan mengingat tradisi pemikirannya yang dibangun dalam tradisi teologi kristiani. F. Budi Hardiman dalam suatu ceramahnya bahkan menyebut tokoh ini sebagai teolog dibanding filsuf. Tapi, mengingat kiprahnya membangun hermeneutika lepas dari tradisi eksegesis dan filologi, dan membuatnya menjadi pendekatan yang lebih univesal, belakangan akan banyak mempengaruhi filsuf-filsuf abad 20.

Schleiermacher adalah anak  seorang pendeta tentara di Silesia Utara. Kedua orang kakeknya juga pendeta. Ayahnya yang memiliki kecenderungan pietis (gerakan yang menekankan doktrin alkitabiah, kesalehan pribadi, dan kehidupan Kristen yang berkobar-kobar) yang kuat, mengirimnya ke seminar Moravian di Barby dengan harapan supaya segala kecenderungan ini akan bertambah berkembang di dalam diri anaknya.

Schleiermacher disebutkan tidak pernah menulis suatu traktat sistematik tentang hermeneutika. Tapi melalui dua ceramah di depan Akademi Prussia dan catatan-catatan pinggirnya, Schleiermacher telah meletakkan dasar-dasar hermeneutika modern.

Perlu digarisbawahi, sampai saat ini belum ada teks terjemahan Jerman tentang karya Platon sebaik hasil terjemahan Schleiermacher. Melalui aktifitas penerjemahan ini, Schleiermacher banyak terinspirasi pemikiran-pemikiran Platon. Melalui konteks ini pula, hermeneutika yang dikembangkannya sedikit banyak dipengaruhi cara berpikir Platonian. Di satu sisi, idealisme Jerman terutama melalui pikiran-pikiran Schelling, Fitche, dan Hegel, juga memberikan warna tertentu dalam pemikiran Schleiermacher.

Schleiermacher mengambil studi teologi, filsafat, dan filologi di Halle (kemudian menjadi pusat pemikiran radikal di Jerman) dan pertama kalinya membaca filsafat kritis Kant. Schleiermacher juga bergabung di perkumpulan para penulis dan pujangga Romantik ketika sekembalinya dari Berlin. Disinyalir melalui kelompok ini, pandangan romantik Schleiermacher semakin tajam dan banyak menolak ide-ide pencerahan yang menekankan rasio jauh lebih utama dari misteri, imajinasi, serta intuisi.

Melalui gerakan romantik, minat Schleiermacher mulai memperhatikan hermeneutika sebagai suatu kajian. Di bawah kerinduan atas ajaran kebijaksanaan kuno dalam tradisi mitos dan agama, hermeneutika Schleiermacher di satu sisi adalah suatu kegiatan penafsiran teks untuk menemukan “isi” atau “inti sari” yang bersifat nonrasional/psikologistis.

Hermeneutika: seni memahami

Situasi mendasar hermeneutika Schleiermacher bukan pemahaman, melainkan kesalahpahaman. Artinya, dalam situasi yang majemuk dan beragam kebudayaan, tradisi, cara hidup, pandangan dunia, sistem moral dlsb., adalah medan hermeneutika Schleiermacher. Bahkan, kesalahpamahan yang lumrah terjadi bukan saja ditengarai akibat perbedaan konteks waktu dan tempat, melainkan prasangka yang lebih mementingkan perspektif pribadi dibanding memahami kawan bicara.

Di situasi itu dibutuhkan seni memahami. Seni di sini diandaikan sebagai suatu keahlian khusus, kemahiran, atau kepiawaian sebagaimana orang-orang yang memiliki kualitas dan “kelincahan” tertentu dalam satu bidang.

F. Budi Hardiman menuliskan dua hal mengapa hermeneutika disebut seni memahami. Pertama, karena dasar situasi yang mengalami kesenjangan kepahaman sehingga membutuhkan kecakapan khusus untuk memahami.  Kedua, di situasi itu, keadaan membangun pemahaman tidak dialami secara spontan, melainkan perlu menerapakan kaidah-kaidah tertentu.

Rekonsepsi: hermeneutika universal

Schleiermacher meyakini prinsip-prinsip penafsiran dapat diperluas di luar dari teks-teks yang disakralkan. Sejauh bahasa memiliki tata aturan gramatik yang memungkinkan penarikan makna atasnya, pembedaan teks suci dan tidak suci tidak lagi relevan bagi Schleiermacher.

Berbeda dari prinsip hermeneutika filologi yang concern terhadap teks-teks kuno, dan eksegesis biblikal yang mendasari penafsiran hanya berlaku di dalam teks-teks sakral, Schleiermacher meradikalkan kegiatan penafsiran ke dalam teks-teks yang jauh lebih umum.

Imbas prinsip hermeneutika yang melihat adanya hukum gramatikal yang tidak banyak berbeda dari semua teks, Schleiermacher menekankan arah baru kegiatan penafsiran jauh lebih luas dari para pendahulunya. F. Budi Hardiman menyebutnya hermeneutika universal.

Sebelumnya kegiatan hermeneutis dalam teks-teks kuno maupun dalam kegiatan eksegesis hanya bertujuan untuk menemukan makna mendasar yang menjadi latar belakang suatu kebudayaan (kesadaran kolektif, roh, volksgeits, seitgeits). Dilatari semangat idealistik demikian, kegiatan hermeneutik juga berusaha menjangkau relasi pikiran subjektif yang ditunjukkan dari ungkapan, pikiran, minat, pandangan dunia dengan akal budi bersama yang dipadatkan dalam akal universal. Kelak Schleiermacher mengembangkan model ini melalui prinsip “lingkaran hermeneutis”.

Cara di atas juga dilengkapi dengan menempatkan kegiatan mengintrepetasi sebagai tindakan dialogis antara penafsir dengan penulis teks. Bentuk komunikasi yang diandaikan melalui kegiatan membaca teks dan dengan “membayangkan” alam pikiran penulisnya, disebutkan sebagai proses kreatif yang tidak sekadar menganalisis kata.  

Empati

Salah satu konsep inti dari hermeneutika Schleiermacher adalah divinatory, yakni kemampuan subjektif seseorang untuk menyeberangi dan masuk ke dalam alam pemikir si penulis teks. Konsep yang dibilangkan bercorak psikologistik ini mengandaikan kegiatan menafsirkan berarti masuk ke dimensi pikiran, batin, dan kejiwaan untuk sekaligus menemukan latar belakang apa yang mendasari si penulis teks menuliskan isi pikirannya.

Dalam situasi ini, berempati adalah model pengoperasian divinatory untuk mau masuk ke dalam cakrawala pikiran dan batin si penulis teks. Kegiatan mengintrepetasi teks melalui alam berpikir penulisnya ini lebih menekankan aspek-aspek di luar teks akibat lebih banyak menyorot sisi subjektif penulisnya.

Divinatory ini sepadan dengan pengertian intuisi yang terinspirasi dari Platon. Dengan kata lain, ketika aktifitas ini diterapkan dalam hermeneutika Schleiermacher, itu berarti menafsirkan adalah mengabstraksi (meramal, membayangkan) kembali latar belakang penulis teks entah itu situasi apa, pemikiran apa, dalam momen apa, melalui cara apa, dlsb., ketika penulis menurunkan isi pikirannya menjadi suatu teks. Hermeneutika Schleiermacher menyebut cara ini sebagai empati psikologis.

Tapi, empati psikologis juga harus dijalankan bersamaan dengan interpretasi gramatikal sebagai satu kesatuan kegiatan hermeneutis. Tanpa itu, maka kegiatan menafsirkan hanya akan bertolak belaka kepada “dunia pikiran penulisnya” tanpa memerhatikan teks penulis yang bagi Schleiermacher adalah dua hal yang setara. Artinya, tanpa interpretasi gramatikal (objektif), intrepetasi psikologis tidak akan memberikan pandangan yang bisa dibilang utuh.  

Dengan dua model ini, maka pemahaman bagi Schleiermacher adalah menghadirkan kembali dunia mental penulis teks. F. Budi Hardiman menyebutnya sebagai suatu usaha merekonstruksi kembali pegalaman mental pengarang. Dengan kata lain ada transposisi, yakni penafsir demi pemahaman, mesti menempatkan dirinya seolah-olah menjadi sang pengarang dalam melihat dan menuliskan teksnya dalam pengalaman tertentu yang khas.

Lingkaran hermeneutis

“Kita memahami bahasa lewat pemakainya, tetapi pemakai bahasa dapat dipahami lewat bahasa yang dipakainya”. Pendakuan ini dipakai Hardiman untuk memutuskan lingkaran setan yang mengakui isi pikiran pengarang jauh lebih utama daripada teksnya, atau sebaliknya, teks jauh lebih penting dari isi pikiran pengarang ketika menuliskan karyanya.

Schleiermacher menekankan dua model interpretasi (gramatikal dan psikologis) dalam keadaan yang saling mengandaikan dan mengisi. Maksudnya, tidak ada hubungan kausalistik yang saling menegasi, dua-duanya setara dan utama. Kesetaraan antara dua model inilah yang disebut lingkaran hermeneutis (hermeneutischer zirkel).

Dalam konteks interpretasi teks, lingkaran hermeneutika bekerja dengan pemahaman atas pengarang melalui teksnya (gramatikal), dan sekaligus memahami teks melalui kepribadian pengarangnya (psikologis).   Inilah yang sebelumnya disebut hubungan cafĂ© dialektika, yakni untuk memahami sebagian melalui keseluruhan, dan juga mengetahui keseluruhan dari bagian-bagiannya.

Melawan literalisme

Literalisme adalah pemahaman terhadap teks yang hanya didasarkan atas makna harfiah belaka. Dalam keyakinan agama-agama, selain sebab lainnya, literalisme banyak bersinggungan langsung dengan aksi-aksi kekerasan. Bahkan aksi kekerasan yang diistilahkan dengan ekstremisme agama, disebabkan akibat cara pandang literalis yang hanya mengakui penafsiran dari “permukaan” teks belaka.

Imbas cara memahami teks dari “permukaan”, literalisme dengan sendirinya menolak berbagai penafsiran. Secara pemaknaan, literalisme hanya mengakui satu pengertian tunggal dari apa yang sudah dikatakan teks secara harfiah. Maka, konsekuensinya terhadap kebenaran, literalisme hanya mengakui satu penafsiran tunggal selain dari kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lainnya.

F. Budi Hardiman melalui Seni Memahaminya menyatakan model hermeneutika Schleiermacher adalah cara memahami teks yang “melawan” literalisme. Membaca teks apa adanya seperti ditemukan dalam literalisme bukanlah metode hermeneutika Schleiermacher yang menawarkan cara membaca teks (kalimat) di antara teks (kalimat). Strategi pemahaman di antara teks ini memungkinkan untuk masuk ke dalam dunia penulis dan konteks kehidupannya yang secara tersembunyi tidak dinyatakan langsung di dalam teks yang ada.

Itu artinya sebuah teks tidak dapat dengan sendirinya menjelaskan dirinya. Di sana pemahaman mesti menangkap “sesuatu” yang lain di luar teks, yakni bangunan mental pengarang (serta konteks kehidupannya) dan juga teks-teks berkaitan, yang membentuk pengertian jauh lebih luas.

Dengan pendekatan interpretasi psikologis dan interpretasi gramatikal, memungkinkan pemahaman menangkap keluasan konteks dari bagaimana teks dibaca sebagai suatu anyaman yang saling berkaitan. Juga, melalui prinsip “keseluruhan dan sebagian” teks akhirnya menjadi dialektis yang berarti membuka pengertian-pengertian jauh lebih variatif daripada makna teks apa adanya

---

Disampaikan pada program diskusi Membaca Cafe Dialektika 21 Maret 2017

Menunggu Mukjizat

Selasa, 21 Maret 2017

Sampai kapan pun Sadrak tidak akan pernah bunting walaupun dia telah operasi kelamin. Kenyataan ini harus ia terima seperti hal anaknya yang juga tidak akan bisa menolak bahwa sekarang di rumah mereka ditinggali dua orang perempuan dewasa. Istri Sadrak hanya memandangi pasrah kalender bergambar moncong banteng putih dengan nanar. Sudah lama dia nyaris gila akibat Sadrak yang bersikeras ingin menjadi perempuan. Tapi ia juga sulit menampik sejak mereka berkenalan dan kemudian menikah, Sadrak memang memiliki gelagat polah selayaknya perempuan. Saat itu semuanya nampak biasa, istri Sadrak merasa hal semacam cara Sadrak duduk dengan memangku kaki adalah hal yang normal. Atau ketika cara Sadrak mandi dengan menggunakan handuk sedada seperti cara perempuan melakukannya. Semuanya bagi istri Sadrak normal-normal saja. Termasuk ketika mereka telah memiliki anak pertama, keinginan Sadrak memanjangkan rambutnya dianggap istri Sadrak hanya sekadar mengikuti trend rambut seperti dalam film Meteor Garden yang sering ditonton Sadrak sehabis magrib.  Tidak bisa ditolak, Sadrak memang tergila-gila dengan Jerry Yan, artis korea yang menjadi bintang Meteor Garden. Bahkan semenjak episode pertama, kamar mereka sudah dipenuhi poster-poster Meteor Garden. Istri Sadrak di saat itu sudah mulai mencurigai kebiasaan Sadrak membeli poster-poster F4, apalagi ketika Sadrak mulai mengoleksi foto-foto Dau Ming Shi yang diguntingnya dari majalah-majalah remaja. Sementara Sadrak yang semakin ke sini semakin menjadi seperti perempuan, istri Sadrak selalu berdoa agar Sadrak dapat sembuh dari penyakit jiwanya. Biar bagaimana pun mereka telah berjanji di atas mimbar gereja, akan saling menyayangi sebagai seorang suami istri. Tapi, apakah suami harus laki-laki, atau istri harus perempuan, adalah soal lain yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Istri Sadrak juga tidak pernah bisa membayangkan jika di suatu malam dia bersenggama dengan seorang perempuan yang sebenarnya adalah suaminya. Tapi apa lacur, setelah Sadrak ikut bersama dua kawannya yang belakangan dia tahu adalah kawan lama Sadrak, gelagat Sadrak semakin menjadi-jadi. Semenjak itu Sadrak sudah berani untuk mencukur habis kumisnya. Bahkan bulu-bulu kakinya yang sering lebih cepat tumbuh dari pada pertumbuhan anaknya, sekarang sudah halus ibarat betis perempuan. “Menjadi perempuan itu pilihan”. Ucap Sadrak di suatu pagi saat dia selesai mandi. Melihat gelagat itu, istri Sadrak seperti dijatuhi bola matahari. Kepalanya panas dan hatinya mendidih. “Seandainya sekarang saya bisa memilih, saya pilih mati saja”. Mendengar ucapan itu Sadrak kaget. Tapi lantas dia berujar, “mati sebagai seorang perempuan jauh lebih berharga daripada tidak bisa memilih”. Istri Sadrak memilih diam setelah mendengar perkataan Sadrak. Hatinya masih kelu. Tidak pernah dia mendengar Sadrak berucap demikian.  Entah dari mana Sadrak belajar menyatakan pendapatnya dengan lugas seperti itu. Sepanjang mereka menikah Sadrak tidak pernah berterus terang seperti ini. Anak Sadrak yang masih kecil malah sebaliknya, setelah melihat Sadrak tanpa kumis dan memiliki tubuh bersih dan wangi hanya berlarian sembari pergi bergelantungan dibawah kaki Sadrak. “Ibu..ibu, Ayah sekarang mirip perempuan, kumisnya ilang”. Sadrak berjongkok. “Sekarang kamu akan punya dua Ibu”. Ujar Sadrak santai sembari mengecup pipi anaknya. Begitulah hari-hari yang dilalui istri Sadrak sampai akhirnya Sadrak semakin gigih terlibat dalam organisasi barunya. Semenjak LGBT bukan lagi kata asing di rumah mereka, istri Sadrak masih belum bisa menerima pilihan Sadrak yang semakin menjadi-jadi. Bahkan hampir semua tugas sebagai seorang ibu rumah tangga di rumah dilakukan Sadrak. “Menjadi perempuan itu pilihan!”. Ungkap Sadrak berulang-ulang. Istrinya semakin yakin, Sadrak mengalami sakit jiwa. Tapi entah obat apa yang bakal menyembuhkannya. “Ini bukan sakit jiwa, justru saya baik-baik saja” ucap Sadrak ketika meninggalkan rumah selama sepekan. Dan, tibalah di hari Kamis, setelah kepergiannya yang kedua kalinya. Kali ini dia kembali dengan menarik istrinya di dalam kamar. “Coba lihat, sekarang kamu harus terima ini”, ucap Sadrak sembari memperlihatkan “kemaluan” barunya kepada istrinya. “Mulai sekarang saya perempuan sepenuhnya”, lanjut Sadrak seperti lega keluar dari lubang jarum. Istrinya tidak bisa apa-apa. Untuk marah pun sulit. Dadanya mencelos. “Tapi kau perempuan yang tidak akan pernah bunting!” ucap istrinya seketika. “Saya tahu. Maria juga tidak pernah menyangka akan melahirkan anak Tuhan!” Sadrak menimpali.      

Misykat

Jumat, 17 Maret 2017

Di setiap peradaban, baik Timur maupun Barat, ketika membangun suatu kota, misalnya, bangunan seperti masjid, merupakan tautan tempat semua bermula. Itu sebabnya, di situ ditetapkan sebagai pusat. Segala hal ditentukan dari sana; nilai, pandangan dunia, moral, tradisi, dan bahkan agama. 

Masjid, atau pusat spiritualitas seperti gereja, di masa itu memang menjadi tempat di mana mata tuhan melihat dan menyapa realitas. Dari kubah-kubah masjid, atau menara-menara gereja, tuhan berswastika di hati orang-orang yang beribadah di bawahnya. 

Dalam Islam, kubah masjid ibarat misykat, simbol mangkuk terbalik yang dimiliki jiwa setiap insan. Di dalam mangkuk itulah sumber cahaya ilahi memancar. Al quran menyebutnya seolah-olah pantulan cahayanya menembusi minyak di bawahnya, melampaui dinding-dindingnya di barat dan di timur. 

Misykat inilah yang kadang bergetar-getir ketika nama tuhan bersentuhan dengan indera pendengar. Di dalam hati, bagian tubuh yang bergetar itu, adalah tanda berimannya seseorang. 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka..." Begitulah literasi yang diabadikan al quran. 

Tapi kata ahli-ahli suluk, misykat yang kotor mustahil cepat dibuat bergetar. Ibarat kaca keramik yang tertutup debu, cahaya yang berpendar-pendar di dalamnya, hanyalah temaram yang luput menembusi hati. Jiwa yang terbengkalai, apa daya tak mampu dibuat bergetar. 

Barangkali karena itu kubah masjid dibuat mirip misykat jiwa manusia. Untuk mengingatkan, dan atau bahkan menggugat, kita yang mudah lupa. 

Tapi, ketika masjid bukan lagi pusat, atau gereja bukan lagi titik Tuhan bermanifes, hati yang bergetar bukan akibat suara tuhan yang dipancar melalui cahaya di hati orang-orang. 

Kini, hati orang-orang lebih mudah bergerak ketika pusat itu berbentuk mal, gym, swalayan, tokoh politik, atau bahkan dunia maya.

Sudah banyak yang bilang, zaman yang bergerak di atas layar media, adalah zaman yang memangkas segala hal. Dunia makin kecil, tak bersekat hingga yang digital menggantikan realitas yang sebenarnya. Juga, Tuhan, yang menjadi pusat di tempat-tempat semisal masjid, akhirnya hanya suara lirih yang tertatih-tatih di antara dering gadget. 

Kini bahkan Tuhan juga mesti tunduk di dalam imajinitas dunia digital. Tuhan, realitas yang ultim itu, juga harus bersaing dengan munculnya tuhan-tuhan digital, realitas-realitas maya yang memenuhi ruang sadar manusia modern. 

Sementara di luar dunia maya, yang pusat mudah ditemukan di tempat-tempat ketika uang berputar dengan cepatnya. Ketika masjid sudah kehilangan pesona, dan hanya jadi tempat bersinggah sementara, kini orang-orang sulit dibuat bergetar hatinya akibat dentumannya lebih kukuh bergaung di sela-sela etalase produk-produk pasar di pusat perbelanjaan.

Di situ, akhirnya,Tuhan berlahan-lahan mengecil di hati yang semakin sulit berpaling. 

Bahkan, Tuhan yang kecil, menjadi lebih berbahaya ketika itu diucapkan dengan motif-motif kekuasaan. Atau bahkan Tuhan dimodifikasi dengan ambisi-ambisi yang lebih rendah: politik. 

Itu sebabnya, di ibu kota negara, pusat yang sering membuat daerah-daerah sekitarnya lebih panas dari biasanya, politik menjadi titik singgung dan titik temu segala kepentingan. Di saat itu, Tuhan ibarat kata-kata yang lebih mirip slogan dan jargon. 

Tuhan yang dibungkus politik pada akhirnya hanya bisa membangun sekat, bahkan sekam di dalam rumah yang sama, keluarga yang sama, atau bangsa yang sama. Tuhan dengan nada yang politis sebenarnya bukan Tuhan yang sebenarnya, tuhan yang welas asih.

Sekarang, masjid-masjid hanyalah bangunan yang dilimpahi bebatuan mahal tanpa dihinggapi suatu pesan sejarah. Ketika masjid adalah titik tolak peradaban digagas, bagaimana kebudayaan dibangun, dan saat kehidupan begitu harmonis dan hanif.

Bahkan, di timur tengah, tempat pusat spiritualitas ditautkan dari seluruh penjuru, Ka’bah nampak polos dikepung ambisi kerdil yang mengitarinya: pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah, kantor-kantor mentereng, dengan gedung yang super canggih.

Itu berarti, konsep tentang pusat, sekarang, hanyalah tempat segala hasrat, ambisi, nafsu serakah, bertemu dan saling silang. Membuat yang peradaban nampak koyak dan boyak.


Makanya nampak wajar, sekarang jika menyebut sesuatu adalah pusat, jika itu adalah kota, ibu kota negara, atau ataupun daerah-daerah yang dianggap titik nol, adalah tiada lain silang sengkarut yang nampak tak bersahaja, semuanya tidak lebih dari wadah kepentingan rendah peradaban dipertautkan.

Saga di Balik Athena

Kamis, 16 Maret 2017 ,

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus. Senja begitu merah
begitu saga. Seumur hidup belum pernah
kusaksikan senja secemerlang itu...”

Petikan puisi Mochtar Pabottingi di atas, barangkali adalah puisi yang muram. Di balik Olympus, Krito, di balik Olympus, adalah gelagat lema yang ditangkap bahasa, tentang Socrates, filsuf yang akhirnya mati –memanggul kebenaran-- tanpa guyah sedikit pun terhadap maut.

Puisi Krito, Senja Saga Di Athena, memang puisi atas rekaman sejarah, tapi dialog Krito dan Socrates, sebenarnya, adalah dialog yang dibutuhkan bagi orang-orang yang merindukan kebenaran seperti Socrates.

Begitulah kebenaran, ikhwal yang akhir-akhir ini lebih banyak membuat polemik daripada suatu ikhtiar yang menyenangkan. Di masa Socrates hidup, kebenaran sesuatu yang musykil ditanggung seseorang daripada akhirnya menyerah untuk menemukannya. Kebenaran, sejauh diandaikan sebagai pencapaian epistemik, atau bahkan ontologis, adalah “sesuatu” yang memang diraih inci demi inci, hasta demi hasta, setapak demi setapak. Dengan kata lain, kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang harus diperjuangkan.

Olympus, kita tahu adalah puncak gunung tempat dewa-dewa Yunani bersemayam. Di sana selain merepresentesekan alam berpikir masyararakat Yunani tentang dunia yang dihuni mahluk-mahluk berkekuatan luar biasa, juga merupakan puncak kebenaran segala pencapaian manusia: keindahan, moral, pengetahuan, nasib…

Ibarat Platon menyebut dunia idea sebagai presentase segala ikhwal, gunung Olympus adalah kulminasi semuanya, termasuk kebenaran.

Itulah sebabnya, di masa-masa Socrates hidup, dunia akan begitu boyak ketika tidak melibatkan kehadiran dewa-dewa sebagai tolok ukurnya. Hidup tanpa bergantung sepenuhnya kepada dewa-dewa bagaikan hidup yang diombang ambingkan gelombang di tengah samudra.

Tapi, pelaut mana yang bisa lahir dari laut yang tenang? Socrates, singkatnya, adalah filsuf yang mengajak “pelaut-pelaut” agar mau menentang arus. Menghadapi gelombang demi gelombang, samudra demi samudra, demi meraih kebenaran.

Di puisi Mochtar, Socrates mengajak sahabatnya Crito –tapi juga sebenarnya semua orang Athena, atau semua manusia—untuk menengok saga, langit orange di balik gunung Olympus. Sesuatu yang sering kali hanya dipahami sebagai background, dari pada suatu pokok dasar.

Dengan kata lain, metafora langit saga, yang ada di balik Olympus adalah “sesuatu” yang sebenarnya harus dicari, diperjuangkan. Bukan apa yang tampak sebagai puncak gunung Olympus, atau berhenti begitu saja di atas bukitnya.

Kebenaran memang tak mudah, ia awalnya samar-samar, dan bersembunyi di balik hijab yang merintanginya.

Rintangan kebenaran di masa Socrates adalah kekuasaan dewa-dewa yang tak lagi adil dan bijaksana. Di sini, atau di mana pun itu, kebenaran merupakan ikhwal yang kadang selalu ditawan kekuasaan.

***

Berbeda dari puisi Mochtar Pabottingi, yang muram, belakangan, seringkali tampak dalam kehidupan berdemokrasi di sekitar kita. Kebenaran yang harus tampak sebagai simbolitas masih bekerjanya nalar kemanusiaan, justru disekat-sekat, bahkan ditawan oleh ambisi-ambisi rendah kekuasaan.

Masih menguatnya isu-isu rasialis, merebaknya hoax, mengerasnya gerakan radikalis keagamaan, diabaikan hak asasi manusia dan perampasan lahan hidup masyarakat Papua, Kasus Munir, Syiah Sampang, Ahmadiyah, 65, dan yang menyedot perhatian waktu dekat belakangan, aksi masyarakat Rembang dan Pati di depan Istana Negara, adalah peristiwa betapa susahnya kebenaran berdiri tegak. Bahkan kebenaran itu mesti diperjuangkan, sebagaimana di hadapan gunung Olympus, di Indonesia, puncak terakhir itu adalah Istana Negara.

Istana Negara, yang menjadi puncak tertinggi hirarki kekuasaan, mesti tahu, kebenaran yang disendat-sendat pada akhirnya akan datang kepadanya. Biarpun itu adalah ikhwal yang awalnya nampak sederhana, tapi seperti yang sudah seringkali terjadi, ikhwal yang sederhana nampak runyam akibat bias kepentingan di dalamnya.

Walaupun demikian, di satu sisi selalu ada harapan, seperti langit saga, --yang dalam puisi Mochtar, Socrates nampak bahagia menatapnya—kebenaran tidak akan pernah mampu dikelabui.

“…Ketahuilah, Krito
Bagiku menjalani hukuman mati
Takkan pernah, seperti katamu, memenangkan
Mereka yang menghendaki kematianku
Maka seumur hidup tak sekali pun kucemaskan
Kematian. Cemasku selalu hanya jika
Aku tak lagi bisa menyimak
Dan berbagi cahaya

Kepalsuan, Krito, takkan pernah mengalahkan
Kebenaran, Sekalipun ia dibelenggu
Berkali-kali kematian

Dan aku bukanlah Oedipus yang terpahat
Kutuk labuda

Aku bukan mainan para dewa…”

Socrates bukanlah Oedipus, yang menjalani takdir panjang nasib yang sudah ditentukan jauh sebelum ia ada. “Aku bukan mainan para dewa”, adalah ikhtisar suatu ikhtiar bahwa apa pun itu segalanya mesti diperjuangkan dimulai dari manusia itu sendiri.

Begitu juga orang-orang yang teguh memperjuangkan nasibnya, ketika kebenaran nampak sumir akibat dipangkas hirarki kekuasaan, mesti memulai bukan dari mana-mana melainkan dari dirinya sendiri.

***

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus.

Hatta, kebenaran memang bukan hal yang lumrah dikatakan jika semuanya nampak biasa mengucapkannya. Kisah Socrates sebenarnya sebaliknya, ketika yang lain dijebak kehidupan yang nampak normal, dia mengutarakan apa yang tak pernah diucapkan di bawah tirani, dengan sungguh-sungguh, dengan berterus terang.

Kini, apa yang tampak benar begitu mudah ditemukan, tapi belum tentu kebenaran itu sendiri.  

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus . Senja begitu merah
begitu saga…”

---

*Puisi Mochtar Pabottingi dalam bukunya Konsierto di Tokyo, 2016.

Toiletmu, Budayamu!

Selasa, 14 Maret 2017

A nation without clean toilet is a nation without culture. Begitu slogan World Toilet Organization tentang toilet sebagai indikator keberbudayaan. Bangsa tanpa toilet yang bersih, adalah bangsa yang tak berkebudayaan.

Cina, yang kerap jadi momok dari pada pokok belajar di negeri ini, bahkan juga bilang; kalau tidak punya toilet yang bersih, adalah negara yang tidak memiliki masa depan.

Seberapa pentingkah toilet itu sebenarnya, sampai-sampai menjadi tolok ukur kebudayaan?

Toilet, seperti juga ruang lain yang diciptakan, juga representase dari cara pandang kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, toilet –seperti beragam bentuknya di tiap bangsa-- sebenarnya cara manusia membaca dan mengeja kebudayaannya.

Barangkali itulah sebabnya toilet juga penting dimanusiakan. Toilet, bukan sekadar tempat "sisa-sisa" aktifitas perut dibuang, tapi bagaimana tubuh manusia menjadi lebih nyaman di dalamnya.

Ketika manusia masih belum terpisah dengan alam, buang hajat sering dilakukan dengan cara-cara konvensional. Biasanya dilakukan di belakang pohon, di pinggir kali, atau di sekitar semak-semak belukar. Tapi, sejarah mencatat, manusia mahluk berbudaya, manusia mahluk yang punya rasa malu, itu akibatnya manusia perlu toilet yang mencerminkan rasa malunya, juga tentu kebudayaannya.

Kompas (Minggu, 12 Maret) menurunkan berita bagaimana beberapa tempat-tempat umum di Jakarta, sudah memandang toilet dengan cara berbeda. Toilet di berita yang diturunkan Kompas akhir pekan ini, dibuat lebih menyerupai kamar-kamar yang merepresentasekan budaya-budaya luar Indonesia.

Sebut saja tempat seperti Grand Indonesia yang mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko. Atau membuat toilet dengan tema-tema ruangan seperti kereta api.
Juga misalnya, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal yang mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Pergeseran cara memberlakukan toilet seperti ini menjadi perubahan khas, bahwa toilet juga sebenarnya representasi kebudayaan tertentu. Bagaimana tubuh dipandang dan dinyatakan walau hanya di dalam toilet.

Sayangnya sekarang tidak semua toilet yang ditemui seperti yang ditunjukkan tempat-tempat di atas. Bahkan, toilet masih jarang ditemukan di ruang publik tempat mayarakat beraktifitas. Tapi jika ada, itu hanya dibuat seadanya. Minim perawatan.

Tidak bisa dipungkiri toilet masih menjadi ruang yang terabaikan akibat cara pandang dengan mengistilahkan toilet sebagai "kamar kecil", "kamar belakang" dan atau "kamar pipis", yang semuanya menganggap remeh toilet.

Padahal sebagaimana aktivitas tubuh yang lain, toilet harus mewakili tempat tubuh dapat beraktifitas dengan baik. Anggapan bahwa aktifitas pipis atau buang hajat bukan aktifitas primer manusia, seolah-olah membuat toilet hanya diperlakukan seadaanya.

Tidak tersedianya toilet higienis di tempat-tempat umum menandai bahwa tubuh masih menjadi arena prasangka yang menempatkan jiwa lebih agung dari tubuh. Persepsi kebudayaan seperti ini, mungkin saja yang menguat di kehidupan sekitar kita.

Saya ambil contoh mengapa bahkan toilet masjid masih jauh lebih kumuh dibanding pusat-pusat perbelanjaan. Atau, mengapa toilet higienis sangat susah dipraktikkan dalam rumah kita sendiri? Itu akibat tubuh masih jauh lebih rendah dari jiwa manusia. Atau masih dianggap remehnya hal-hal yang berkaitan dengan tubuh.

Sudah dikatakan sebelumnya, toilet merupakan tempat tubuh beraktifitas. Di mulai dari toilet, orang-orang memugar dan memoles tubuhnya. Coba Anda berlama-lama di dalam toilet pusat perbelanjaan, pasti di sana lengkap dengan cermin banyak orang bersolek ria. Itu berarti tubuh adalah ikhwal yang juga penting diperhatikan.

Tapi itu juga akan jauh berbeda di tempat umum yang jauh dari amatan arsitektur canggih. Di pusat-pusat perbelanjaan, toilet memang sudah mencerminkan pandangan yang berorientasi kesehatan. Namun, jika berkunjung di tempat-tempat lain selain seperti itu, toilet malah menjadi tempat yang menjijikkan.

Perbedaan ini akibat selain minimnya perhatian, tentu juga disebabkan toilet yang mencerminkan perbedaan kelas masyarakat. Toilet yang ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan di atas, sangat wajar jika nampak sehat dan bersih tiada lain akibat dikelola dengan budget yang tinggi. Bahkan memang di tempat-tempat itu menjadi lokasi perputaran modal yang pesat. Toilet di semisal mal, hotel, kantor-kantor dlsb., memang kawasan kelas menengah beraktifitas.

Tapi, sebaliknya, toilet di tempat umum yang mudah diakses di pasar-pasar, terminal, rumah sakit, merupakan tempat-tempat yang tidak sama sekali mencerminkan kepentingan kelas tertentu. Imbasnya, toilet akhirnya diberlakukan seadanya.

Toilet yang nampak seadaanya dan bahkan kotor dapat dilihat dari siapa-siapa yang sering kali menggunakannya. Di mal-mal, bisa saja yang menggunakan toilet adalah orang-orang kelas menengah yang sudah teredukasi dengan baik bagaimana memperlakukan toilet. Mereka bahkan tahu menggunakan alat-alat canggih di dalam toilet yang jarang ditemukan di dalam toilet di tempat lain.

Tapi, jika di terminal, di pasar-pasar tradisional, misalnya, toilet menjadi buruk akibat orang-orang yang belum memahami arti penting kebersihan toilet. Bahkan, toilet yang kotor dianggap sudah biasa.

Hal yang penting dari kebersihan toilet juga adalah ada tidaknya pengelola. Sangat jarang toilet-toilet umum dibekali dengan pengelola yang mengerti arti penting kebersihan. Di pom-pom bensin, misalnya, toilet hanya dikelola orang-orang dengan seadanya tanpa pengetahuan kebersihan yang memadai.

Sangat lucu, jika mendengar bahwa perlu satu abad hanya mau mengubah mindset masyarakat kita dalam memperlakukan toilet dengan baik. Padahal, sebenarnya jika tubuh adalah juga sebagaimana jiwa yang mesti dirawat, tentu saja toilet juga mesti mewakili kesadaran semacam itu. Di dalam ruang yang bersih, terdapat toilet yang bersih pula.

Syahdan, sekarang kalau mau jujur, sulit menemukan toilet bersih di sekitar Anda. Toh kalau ada, itu hanya ada di tempat-tempat mewah nan mentereng. Makanya wajar jika suatu waktu Anda berkendara di jalan, apabila terjebak macet, misalnya, butuh menunggu lama sampai ke tempat yang Anda duga menyediakan toilet umum. Sialnya, ketika sampai, toilet yang Anda pakai tidak menyediakan gayung dan air yang cukup. Memang, butuh satu abad untuk menemukan toilet seperti yang Anda harapkan.


Kolektif blog