Pedro Paramo dan Hantu-Hantu Abadi Juan Rulfo

Senin, 21 Agustus 2017 , ,

Di sini di mana udara terasa begitu ganjil, suara-suara itu kudengar jauh lebih jelas. Suara-suara itu ada dalam diriku, begitu nyaring dan bising (Juan Preciado)

Saya membutuhkan lebih banyak konsentrasi membaca Pedro Paramo (terbitan Gambang, terjemahan Lutfi Mardiansyah) akibat setting ceritanya yang tanpa disadari seketika berubah begitu saja (bahkan saat menulis tulisan ini saya juga masih membaca untuk kedua kalinya). Tehnik penceritaan yang mirip lorong waktu ini, yakni penceritaan yang hampir bersamaan dan juga bolak balik antara masa sekarang dan masa lalu dengan intens, membuat gaya penceritaan Juan Rulfo mesti dibaca dengan hati-hati dan lebih teliti. Perubahan konteks cerita dengan tokoh-tokoh yang kurang lebih berjumlah 20, membuat cerita menjadi tumpang tindih sekaligus menjadi acak. Alur yang demikian mengingatkan saya kepada gaya penceritaan yang menjadi khas dari sastra Amerika Latin terutama yang ditemukan dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez (Pedro Paramo disebut-sebut teks yang paling menentukan dan mempengaruhi banyak penulis Amerika Latin setelahnya, semisal Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Marquez sendiri [disebutkan di situs berita Independent, tanpa Pedro Paramo tak akan lahir Seratus Tahun Kesunyian]). Apalagi dua setting waktu yang intens berubah seketika, dan berpusat pada dua tokoh yang berbeda dengan masing-masing tokoh tambahan di cerita yang berbeda pula, pelan-pelan akan menguak isi cerita yang sebenarnya akan membuat kaget pembacanya. Dengan cara ini, Pedro Paramo adalah novel yang menyimpan teka-tekinya sejak awal ketika membacanya. Pedro Paramo dibuka dengan kisah Juan Preciado, seorang pemuda yang ditinggal mati ibunya yang di saat terakhir hidupnya, berpesan kepadanya untuk mencari ayahnya di suatu tempat bernama Comala. Comala adalah tempat nun jauh yang tak pernah didatangi Juan Preciado, namun karena amanah terakhir ibunya, maka itu dilakukannya juga. Sampai di sini, setting ceritanya membawa imajinanasi saya tentang kisah yang akan menceritakan perjalanan Juan Preciado ke Comala untuk menjalankan misi mencari ayahnya. Di perjalanan, dia bertemu seseorang yang menunggangi keledai bernama Abundio, yang menceritakan seperti apa Comala, tempat yang akan dituju Juan Preciado (di perjalanan bersama Juan Preciado, Comala dikisahkan Abundio sebagai tempat yang sangat panas, kota yang “bertengger di atas bara api bumi, tepat di atas mulut neraka”, metaforanya menarik: “ketika orang-orang di sana mati [Comala] dan pergi ke neraka, mereka yang mati itu akan datang kembali untuk meminta selimut”—bayangkan betapa panasnya Comala dibandingkan neraka). Dan, dari mulut Abundio-lah, Juan Preciado tahu, bahwa Pedro Paramo, yang dinyatakan oleh ibunya sebagai ayahnya, yang menjadi tujuan pencariannya, telah mati bertahun-tahun yang lalu. Di sinilah imajinsai pembaca seketika stuck, tetapi sekaligus teka-tekinya itu sendiri. Sebelum sempat kita mengetahui siapa Pedro Paramo, bagaimana keperawakannya, bagaimana ia hidup, kenapa ia harus dicari, tiba-tiba dinyatakan sudah mati bertahun-tahun lalu. Lantas untuk apa kisah Juan Preciado dilanjutkan? Nah, justru di sinilah petualangan Juan Preciado sebenarnya akan dimulai. Setelah sebelumnya misi kisahnya adalah mencari Pedro Paramo yang disangka masih hidup, tiba-tiba mundur bertahun-tahun lalu di kota Comala. Setelah Pedro Paramo dinyatakan mati oleh Abundio, dan sudah terlanjur tiba di Comala –dikisahkan semenjak Juan Preciado sampai di Comala, keheranannya mencuat melihat suasana kota yang tak biasa. Kota itu adalah tempat yang sepi dan tak berpenghuni, bahkan sudah lama ditinggalkan penduduknya-- Juan Preciado menyempatkan singgah sekaligus istirahat di tempat yang direkomendasikan Abundio. Rumah itu adalah rumah Eduviges, seorang perempuan tua yang mengenal ibu Juan Preciado di masa lalu, dan Pedro Paramo itu sendiri. Dikisahkan, Eduviges sudah menanti kedatangan Juan Preciado dan mengetahui kedatangannya melalui informasi ibunya (bagaimana ia bisa tahu, bukankah ibu Juan Preciado sudah meninggal?). Melalui perbincangan dengan Eduviges di rumahnya, tersibak kenyataan aneh bahwa lelaki yang bertemu dengan Juan Preciado di perjalanan yang bernama Abundio ternyata adalah roh gentayangan, dan seseorang yang tuli di masa hidupnya. Di sinilah letak titik yang membuat saya mengerutkan jidat. Jadi ternyata orang yang berbicara selama perjalanan dan mengatakan Pedro Paramo sudah meninggal kepada Juan Preciado adalah sesosok hantu? Hantu yang mengabarkan kematian? Pantas ketika Juan tiba di Comala kecurigaannya mencuat, Comala adalah kota yang sepi dan sudah lama ditinggalkan penghuninya. Lantas, kejutan selanjutnya adalah Eduviges itu sendiri. Ketika Juan Preciado tersadar dari waktu istirahatnya di pagi hari, seorang wanita datang menemuinya. Dari wanita bernama Damiana inilah Juan Preciado juga mengetahui, Eduviges yang mengajaknya berbicara dan menawarkannya ruangan tempat tidur semalam, yang ternyata bekas ruangan orang terbunuh, adalah juga sesosok hantu bergentayangan. Ya, Eduviges sesosok hantu, roh yang bergentayangan. “Evudiges yang malang. Pasti dia masih bergentayangan seperti jiwa yang tersesat,” kata Damiana. Dan semakin ke sini, kisah Pedro Paramo menyadarkan saya ternyata Comala adalah kota hantu—termasuk Damiana sendiri. Kota yang berisikan roh-roh yang bergentayangan tepatnya. Melalui roh bergentayangan inilah, yang mencuat dan mengendap dan bersuara di sekitar tembok-tembok mati, penglihatan dan di telinga Juan Presciao kisah Pedro Paramo, satu persatu terkuak. Tanpa disadari sebelumnya, kisah yang dikuak melalui plot yang maju mundur  di antara tokoh-tokoh yang banyak bermunculan tanpa latar belakang yang cukup (bahkan dalam dialog-dialognya unsur kemewaktuan masa lalu dan masa sekarang banyak berlaku dalam satu paragraf sekaligus), sebenarnya adalah gema dari kota, cinta, sejarah, kemiskinan, pencurian, pemerkosaan, skandal dan penderitaan masyarakat miskinnya, orang-orangnya, dan Pedro Paramo itu sendiri. "Kota ini penuh dengan gema… Seperti mereka terjebak di balik dinding atau di bawah batu-batuan ketika Anda berjalan, Anda merasa seperti seseorang di belakang Anda, melangkah dalam langkah Anda, Anda mendengar gemeresak.. Dan orang tertawa… Tawa yang terdengar habis… Dan suara-suara yang aus oleh tahun.” Pedro Paramo bisa dibilang adalah kisah sejarah suatu kota dengan masyarakatnya yang terjerat skandal yang berpusat kepada Pedro Paramo sebagai orang berpengaruh di Comala. Dengan gaya kepemimpinannya yang culas, penuh tipu muslihat, acuh tak acuh, Pedro Paramo “memimpin” kota Comala menuju masa-masa depresinya. Melalui figurnyalah novel ini mengetengahkan asal-usul sejarah Comala dan penduduknya yang dibentuk dengan perampasan, pemerkosaan, korupsi, dan cinta yang rumit. Melalui Juan Preciado, novel Pedro Paramo tersirat kisah seseorang anak yang mencari asal-usulnya yang berpusat dari bapaknya yang “misterius”, tetapi juga pencarian itu harus berakhir ke dalam kematian ayah yang sebenarnya bukan tujuan pencarian itu sendiri. Juan Preciado nyatanya memulai pencarian bukan dari siapa sebenaranya Pedro Paramo, melainkan membuka sejarahnya sendiri melalui kematian yang secara "kebetulan" melalui Pedro Paramo. Dengan kata lain, jika ingin mencari asal-usul, titik permulaannya bukanlah mencarinya kedalam sejarah orang-orang tertentu, tapi ke dalam kematian (akhir) itu sendiri sebagai suatu peristiwa yang menyejarah. Pedro Paramo novel yang di satu sisi mengaburkan atau bahkan mencampuradukkan dimensi waktu dan ruang lingkup kehidupan orang-orangnya, sehingga nampak seperti waktu yang abadi tanpa mengenal batas-batas masa lalu dan sekarang. Dialog-dialognya tumpang tindih, berlapis-lapis seiring pergantian kata ganti orang. Gaya penceritaan yang demikian seolah-olah membuat semacam pemahaman, bahwa kenangan suatu tempat hanya akan bertahan dengan kenangan itu sendiri melalui penceritaan terus menerus yang melintasi ruang dan waktu, walaupun orang-orang datang silih berganti. Mati ataupun hidup. Orang yang masih menginjakkan kakinya di bumi, atau sudah bergentayangan seperti hantu-hantu di Comala. Dengan kata lain, Pedro Paramo dibangun bukan saja dari suara-suara orang-orang yang masih hidup, melainkan juga gema suara orang-orang yang sudah mati melalui cara yang menajubkan tetapi juga aneh: tokoh-tokohnya yang hidup dikisahkan telah mati, dan sekaligus yang mati diceritakan masih hidup. Ya, cerita Pedro Paramo dibangun dari hantu-hantu yang bercerita tentang kenangannya di suatu kota yang tidak bisa mereka tinggalkan (Juan Preciado sendiri juga adalah sesosok hantu ketika ia menyadari melihat tubuhnya terkubur di suatu pemakaman [jadi semenjak awal cerita Juan Preciado adalah juga sesosok hantu]). Akhirnya, dengan begitu antara kematian dan kehidupan menjadi tidak jelas batasnya, yang membuat seluruh apa yang ditinggalkan di Comala termasuk arwah yang bergentayangan di dalamnya, menjadi penduduk kota hantu yang abadi. Tersesat di dalamnya, selama-lamanya.

Perempuan Kedua dan Puisi Lainnya

Minggu, 20 Agustus 2017

Setelah Merdeka

Sekarang betapa mudah mengangkat bendera merah putih itu. Menanamnya di perut bumi. Dengan tiang-tiang bambu.
Kadang dibuat melintang di atas genteng, menjalari seperti ular naga yang melintas bolak-balik, di tiup angin. Begoyang-goyang seperti suara daun bambu
Merah putih berkibar berkelabat di setiap benak pandunya
Melayang layang di bumi Indonesia. Dengan susah payah
kemarin badan koyak, mengucur-ngucur keringat. Apalagi darah
semburat warna bendera. Betapa berat sungguh
Sampai sekarang, tubuh masih kesakitan mengingat
hayat dirajah penjajah


----


Memunggungi Buku

Mereka tak mencintai buku-buku
Hidungnya lebih sayang di bibir perempuan
Melepas sarung setelah hujan

Mereka tak mencintai buku-buku
Memahami pagina tak sudi
ketika satu kata hilang dibawa air

mereka tak mencintai buku-buku
seperti semut tak menyukai minyak tanah

mereka tak mencintai buku-buku
mereka tak mencintai buku-buku
mereka tak mencintai buku-buku

mereka sudi sakit memanggul
dipunggunginya berlama-lama, kata-kata


---


Perempuan Kedua

Kau putuskan dia
Setelah janji tidak kau tunaikan
“Aku mencintaimu entah sampai kapan”
Kau mengucapnya pelan
di bawah desir angin  
Seperti sepotong sajak cinta
“Tunggulah aku, ketika muka-muka menjadi bahagia”
Tapi, itu justru naskah entah siapa
penulisnya. Kau ucapkan seperti
suatu kebiasaan di sore hari
saat burung-burung berdecit mengakhiri
senja yang ganjil

Kau tinggalkan dia
Setelah seorang perempuan menyicil
hatimu sebelah, tapi tidak jiwamu
yang kelimpungan akibat air matanya
membentuk sungai tempat ganggang
tumbuh di hati yang koyak

kau tinggalkan dia
begitu saja dipias sepi
membuat hari-hari gelap
setelah rembulan kau berikan
ke dalam mata perempuan itu
yang kau tatap setiap malam
“Aku bakal menyanyangimu, setiap jiwaku”
Itu kau ucapkan, ketika siang
Berhari-hari dan, malam pun tiba
Kembali kau pandangi lagi, bulan
Di mata perempuan itu

kau tinggalkan dia
dengan bibir gemetar
sekaligus kau ambil mataharinya
di benamkan di hati
perempuan itu yang bakal
katakan katakan “ini matahariku, pakailah jika kau mau”
dengang harap suatu waktu
dia melunasi hatimu yang masih
setengah, tapi bukan jiwamu

kau tinggalkan dia
seperti baru saja terjadi
dengan rembulan dan matahari
yang kau rebut paksa, siang malam
untuk perempuan ke dua
yang tak pernah kau temui


---

Terbit pertama kali di Kalaliterasi.com

Cannery Row, John Steinbeck

Sabtu, 19 Agustus 2017 ,

Betapa berharganya seorang John Steinbeck bagi warga Ocean View Avenue sehingga mengubah namanya menjadi Cannery Row. Ini dilakukan atas penghormatan terhadap Steinbeck yang mengambil Ocean View Avenue sebagai latar cerita novelnya ini (akan sangat membanggakan kalau hal ini juga dilakukan terhadap sastrawan-sastrawan kita di Indonesia). Jika ingin tahu di daerah mana Ocean View Avenue berada, maka bukalah peta via goggle map, letaknya berada di kota Monterey, California, Amerika Serikat. Cannery Row adalah daerah pesisir menghadap laut, kawasan pemukiman yang berisikan orang-orang yang hidup dari hasil lautan. Mungkin sebagian besar warga Cannery Row akrab dengan perahu-perahu nelayan, desir angin asin, air pasang, dan tentu ikan-ikan yang menjadi penghasilan keuangan mereka. Sesekali menyesap bir atau wiski ketika angin dingin melanda. Atau membuka lebar-lebar pintu atau jendela ketika matahari sedang terik-teriknya. “Cannery Row di Monterey California adalah puisi,” tulis Steinbeck, “kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan, cahaya, nada, kebiasaan, nostalgia, dan mimpi. Cannery Row adalah kerumunan dan hamburan orang-orang, kaleng dan besi dan karat dan serpihan kayu, aspal yang mengelupas dan tanah yang penuh rumput dan timbunan sampah, pabrik-pabrik pengalengan sarden dan dibangun dari pintu-pintu lipat besi, tempat-tempat kumuh, restoran-restoran, rumah pelacuran, dan toko-toko kelontong kecil yang berdesak-desakkan, laboratorium, dan rumah-rumah kumuh.” Itu sebagian kalimat pembuka novel yang diterjemahkan Eka Kurniawan. Seperti gado-gado, seluruh kesan bercampur baur. Puisi dan kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan dan cahaya, nada dan kebiasaan, dan nostalgia dan mimpi, yang semuanya memberikan semacam kesan bahwa Cannery Row adalah tempat yang unik dan antik. Ya, Cannery Row adalah cerita orang-orang pinggiran dan yang dianggap tak berguna, namun masih memiliki hati yang luas seperti lautan yang melingkupi daerah mereka. Orang-orang yang sama yang ditulis Steinbeck sebagai germo, tukang tipu, judi, pelacur, anak haram jadah, tapi jika dilihat dari lubang yang lain adalah “para santo, dan malaikat dan orang-orang suci.” Cerita masyarakat kelas kedua. Cannery Row punya Le Chong, yang diceritakan memiliki toko kelontong segala kebutuhan dapat segera terpenuhi, toko serba ada yang tak pernah memberikan diskon walaupun barang dagangannya telah digigit tikus-tikus pengganngu. Cannery Row punya Doc, lelaki tua yang gandrung dengan hewan laut yang sering dicarinya di sekita pesisir California, pria aneh yang sering menayalurkan pesanan berkilo-kilo hewan laut ke universitas-universitas, laboratoriun, bahkan museum, juga seseorang yang menempati Western Biological, gedung yang befungsi sebagai laboratorium yang menyimpan benda-benda aneh, segala jenis binatang-binatang laut, zat-zat beracun, obat-obatan yang sulit diketahui untuk apa menyimpannya, dan benda-benda yang diawetkan di dalam stoples yang berisikan ramuan khusus. Doc memiliki Franky seorang bocah dengan gangguan mental yang hanya mau tinggal bersamanya di sebuah lemari yang disenanginya. Cannery Row memiliki Dora Flood perawan tua berumur 50 tahun dengan gadis-gadis peliharaanya, si induk semang yang memiliki gaya etika seperti orang terhormat dari rumah pelacuran bernama Bear Flag Restauran dengan insting bisnis yang memukau yang membantu tagihan-tagihan toko kelontong di sekitar Cannery Row. Di Bear Flag, siapa pun bisa memesan segelas bir dengan memakan sandwich –suatu istilah bagi orang-orang dewasa yang sering berdatangan di Bear Flag. Di Cannery Row ada Mr. dan Mrs. Molly, pasangan suami istri yang meenjalani hari tuanya yang tinggal di dalam pipa ketel uap bekas yang disimpan begitu saja di hamparan tanah kosong. Dengan jeli mereka menyulap pipa-pipa bekas sebagai tempat tinggal bagi gelandangan-gelandangan dengan cara menyewakannya. Di Cannery Row tinggal juga Henry, pria yang senang melukis menggunakan kulit kacang, tapi lebih suka membuat perahu sepanjang sepuluh tahun dan tak pernah dibawanya berlayar karena selalu dibongkarnya untuk dibuat kembali dari awal. Dan, Cannery Row juga memiliki Mack, seorang pemimpin dari  segerombolan yang ia sebut anak-anak, yang mempunyai kejeniusan seorang pengangguran untuk bertahan hidup dari keacuhan Cannery Row dengan rela bekerja apa saja melalui tipuan-tipuan handalnya. Mack tinggal di sebuah bangunan tak terawat yang mirip gudang—setelah dipinjamkan oleh Le Chong dengan sedikit tipuan yang cerdik-- bersama Hazel, seorang pemuda 26 tahun yang pernah bersekolah di sekolah tempat anak-anak bermasalah yang memiliki kecakapan berbicara yang bisa memancing obrolan yang menjebak lawan bicaranya tapi tak memahami dengan baik apa yang seringkali diomongkan, bersama Eddie, seseorang batender pengganti di sebuah pub bernama La Ida yang sering kali mengumpulkan sisa-sisa bir, wiski, scotch, anggur, rum, gin, atau minuman apapun yang tidak dihabiskan dari para pelanggan di bawah meja kerjanya untuk dibawa pulang agar dapat diminum bersama lainnya, bersama Hughie yang memiliki sedikit kecerdasan ketika memanfaatkan barang-barang bekas yang dipungutnya entah di mana dan mampu diubahnya menjadi tempat tidur sederhana yang tidak dipunyai teman-temannya, bersama Jones seseorang yang rela bekerja apa saja untuk membantu kelompoknya agar dapat menikmati hari-hari tanpa harus kelaparan, dan  anggota terakhir, Gay, pria yang memiliki kecakapan bak montir berbakat yang mampu menyulap seonggok truk yang ditinggal begitu saja menjadi alat transportasi yang menguntungkan bagi mereka. Mereka semua tingga di tempat bernama Palace Flophouse yang dipermak menjadi tempat tinggal seadanya dari barang-barang rongsokan. Di Cannery Row mereka semua saling bersinggungan, sehari-hari bertukar sapa, di antara bising dan busuknya tempat tinggal yang asin dibawa angin laut. Tapi, selalu ada saat-saat kebaikan entah muncul dari mana yang membuat satu dengan lainnya harus memberikan yang terbaik untuk menunjukkan simpati dan tentu, kebaikan itu sendiri. Dan, kebaikan itu adalah pesta sederhana yang menyatukan mereka di bawah suatu persahabatan di malam hari yang dirancang oleh Mack beserta gerombolannya. “Si Doc itu sahabat sialan yang baik hati, ia akan memberik kalian seperempat galon setiap waktu. Ketika tak sengaja aku terluka ia menyiapkan perban baru setiap hari. Sahabat sialan yang baik hati.” “Aku telah berpikir sangat lama… apa yang akan kita lakukan untuknya—sesuatu yang manis. Sesuatu yang ia suka.” Kemudian rencananya ini menyebar dari mulut ke mulut seperti rambatan angin yang menyelinap ke setiap jendela untuk memberikan kejutan terhadap Doc–dan akhirnya adalah pesta dan kebahagiaan bagi mereka bersama. Sangat jarang menemukan orang semacam Mack, apalagi seorang gelandangan yang memiliki harti murni untuk membalas kebaikan seseorang dengan apa yang tidak ia miliki mungkin di sepanjang hidupnya. Di mana-mana suatu pesta perayaan seringkali dilakukan oleh orang-orang berduit, orang-orang yang memiliki akses yang besar terhadap kemeriahan dan keberlimpahan. Dengan tujuan kegembiraan yang seringkali malah sebagai ajang pamer diri ketika mampu mengambil langkah keberhasilan yang tak dapat orang lain tiru. Dengan kata lain suatu pesta yang tak berfaedah, bukan sebagai ajang simpati dan terima kasih. Tapi, Pesta Mack ini bukanlah pesta yang meriah, tapi cukup untuk menarik setiap dari mereka menyiapkan waktu dan kado khusus ketika menunjukkan kebaikan satu persatu di antara mereka. Suatu pesta yang sebenarnya adalah balas budi bagi kehidupan mereka yang memiliki orang-orang yang rela melalukan apa saja demi suatu kebaikan yang dapat dikenang bersama. Pada akhirnya suatu pesta yang dikerjakan bersama-sama tanpa bersembunyi dari kenyataan pahit  dan kere yang mereka alami sehari-hari. Suatu kebaikan yang akan dibicarakan dan dibagi di sisa usia warga Cannery Row.