Minggu, 21 Januari 2018

Revolusi a la Gabriel Garcia Marquez

Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan. Begitu pendakuan Gabriel Garcia Marquez, sastrawan masyur yang menulis Seribu Tahun Kesunyian. Marquez tidak seperti para pengkotbah di negeri ini yang meyakini perubahan hanya bisa disandarkan kepada kebutuhan untuk bersuara. Tentunya ini bukan sekedar trik Marquez untuk menyeret orang-orang dari “pusaran suara” menuju “pusaran aksara.” Apalagi menganggapnya sebagai strategi untuk menarik minat orang-orang agar menyenangi quote-quote inspiratif.

Sebaliknya,  menurut eike ini cara Marquez untuk menyampaikan suatu pengertian yang jauh lebih ke belakang, jauh lebih fundamental: menghayati aksara dengan beragam risikonya.

Pertama-tama, ini mungkin spekulatif: tidak ada penghayatan terhadap aksara tanpa sebelumnya beririsan dengan dirinya sendiri. Dalam konteks dunia yang mengakomodir publisitas sebagai indikator kemajuan, seseorang mesti pertama kali menaklukkan dirinya untuk mau menepi di pesisir kesunyian.

Konon Orhan Pamuk, sebelum menjadi penulis seterkenal sekarang, kurang lebih banyak mengurung dirinya selama delapan tahun di perpustakaan tanpa diganggu peristiwa sehari-hari. Entah apa yang terjadi di kala itu. Tapi, dari pengalamannya macam demikian, kita bisa menarik faedah kira-kira apa yang terjadi jika Anda mengurung diri selama bertahun-tahun di dalam ruangan yang penuh buku-buku? Mungkin Anda mampu menghapal pelbagai macam judul buku beserta deretannya di atas almari. Atau mengetahui hampir semua isi buku yang mengelilingi Anda? Apakah Anda akan menjadi Orhan Pamuk yang lain? Mungkin.

Secara ilustratif, model hidup semacam itu kemungkinan besar akan dicela sebagai kehidupan yang mengingkari kehidupan bermasyarakat. Seperti kaum sufi yang mentalak dunia demi pencapaian spiritualitas tingkat tinggi. Namun, dunia justru membuktikan, jalannya sejarah perabadan manusia kadang sangat ditentukan dari pencapaian orang-orang yang bercengkrama dengan kesendirian.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sebagai suatu pernyataan sampai sekarang masih sering membuat eike takjub terhadap kandungan makna yang ada di baliknya. Bagaimana mungkin seorang bisu mampu bernyanyi? Situasi apakah yang mendorong seorang bisu harus bernyanyi di dalam kesunyian? Dalam situasi itu, jenis suara seperti apakah yang dihasilkan dari nyanyian seorang yang bisu?

Terlepas dari eksposisi di atas, di situ sunyi dan bisu bagi eike adalah dua situasi yang extraordinary. Melalui situasi itulah sunyi dan bisu  yang dimaksud dari buku Pramoedya Ananta Toer menemukan momentum pemakanaannya.

Biografi Pamuk dan terlebih lagi Pram adalah biografi orang-orang yang dipapar kesunyian. Mereka adalah orang-orang yang mengelola kesunyian menjadi kekuatan. Bagi eike, di titik inilah momen revolusioner diciptakan. Dan menulis adalah strategi mereka untuk melancarkan suatu gema, suatu suara. Barangkali inilah suatu cara terbaik yang dikatakan Marquez sebagai jalan untuk menjalankan revolusi. 

Kedua, dilihat dari konteks abad ini, menulis adalah pekerjaan yang sama berartinya dengan pekerjaan-pekerjaan teknis lainnya. Dia sama revolusionernya dengan penggunaan gadget dewasa ini. Dengan kata lain, menulis memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam menciptakan perubahan sosial.

Sebagai perbandingan, setelah tradisi lisan dipentaskan di atas podium-podium agama, tulisan-tulisan Martin Luther yang ditujukan untuk mengkritik doktrin gereja abad pertengahan menjadi medium baru dan mampu mengkonsolidasikan suatu pandangan baru sebagai basis keimanan. Semenjak kritik teologi yang ditulisnya disebarluaskan, sejarah kekristenan berubah dengan  munculnya aliran baru yang hari ini dikenal sebagai Protestanisme.

Memang agak klise, tapi perubahan sejarah kekristenan itu sepakat atau tidak, ditengarai melalui medium tulisan. Dengan sokongan revolusi mesin cetak Guttenberg, tulisan semenjak itu mulai mengubah bentuk kesadaran yang beralih dari suara menjadi aksara. Dengan cepat terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan dengan menerobos sekat-sekat kelas masyarakat saat itu.

Di masa sekarang, kejelian ramalan Alvin Toffler mengenai kedudukan sejarah di masa akan datang menemukan momentumnya. Dengan tesis yang pernah ia ajukan tentang buta huruf, secara patologis menggambarkan kebutaan secara informatif masyarakat gelombang ke tiga ditunjukkan bukan dari mereka yang tidak bisa baca tulis, melainkan ketidakmampuan orang-orang mengelola informasi dan keengganan untuk belajar seiring perubahan yang terjadi.

Dengan kata lain, keberlimpahan informasi yang mengepung kehidupan masyarakat hari ini tidak menjamin kemajuan secara epistemik masyarakat itu sendiri. Justru kenyataan sebenarnya adalah, banyak orang-orang yang masih buta huruf akibat tidak mampu mendudukkan informasi sebagai data penting untuk memajukan kehidupannya.

Dari konteks di atas, dengan begitu menulis sama berartinya sebagai pekerjaan yang memukul buta huruf. Suatu upaya melawan kebodohan. Di situ ada kegiatan pengelolaan informasi menjadi data, membaca pelbagai referensi, membandingkan data-data, dan menganalisis hasil bacaan. Dengan kata lain, suatu tindakan revolusioner.

Ketiga, menulis dengan sebaik yang dapat ia lakukan berbeda dengan hanya sekedar menulis. Sebaik yang dapat  dilakukan adalah kuncinya. Frasa itu menandai pentingnya segala upaya dan tenaga sebagai daya dorong bagi seseorang untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan menulis yang dimilikinya. Sebaik yang dapat  dilakukan dengan kata lain adalah parameter yang memisahkan mana penulis yang mau berjibaku dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, dan yang mana penulis yang pada akhirnya berhenti dan menyerah dengan hanya memberikan kemampuan ala kadarnya.

Ini artinya seperti seseorang yang melawan dirinya sendiri untuk menetapkan batas-batas terjauh dari kemampuan dirinya. Esok bukanlah hari ini, dengan sekaligus harus jauh lebih baik dari hari sekarang.

Dengan kata lain, ini adalah suatu ritme. Suatu tindakan keberlanjutan terus menerus.

Syahdan, perkataan Marquez di atas memang bukan frasa yang akrab ditemui jika berbicara mengenai perubahan sosial. Apalagi jika itu mau dikatakan sebagai anjuran-anjuran revolusioner yang kerap mengundang orang-orang agar mau berkumpul di jalan. Revolusi Marquez dengan kata lain bukan jenis revolusi yang berbasis barisan orang-orang. Dia sesuatu yang lain, sesuatu yang membutuhkan ruang tersendiri untuk menyusunnya. Suatu pekerjaan soliter. 

Akhir kata, ketika hari ini banyak pekik suara-suara yang mengepung di atas udara, bisa jadi itu hanya jenis suara yang banal. Mungkin itu bukanlah sumber perubahan?

Rabu, 17 Januari 2018

Tertawalah sebelum Tertawa itu Dilarang

Konon orang Rusia pelit tersenyum apalagi tertawa. Tertawa bagi orang-orang Rusia tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang, apalagi bagi orang tidak dikenal. Bahkan ada penelitian dari seorang professor di Universitas Voronesh, orang-orang Eropa umumnya mengenal orang Rusia sebagai orang-orang yang pemurung, suka cemberut, dan mudah marah.

Berbeda dari masyarakat kita yang gampang tersenyum. Bahkan kita mudah menggumbar senyuman kepada orang yang masih asing. Ingatan bangsa kita mengenal orang yang paling mudah memberikan senyuman di saat kapan pun sudah tentu adalah Soeharto. Tidak tanggung-tanggung di saat memerintah dan menindas  pun ia masih bisa melakukannya

Itu tanda bahwa secara umum orang-orang Indonesia ramah-ramah, baik hati. Piye kabare, gimana wuenak zamanku, to?

Melalui pendekatan psikologi, seorang scholar ilmu jiwa Pavel Ponomaryof mengemukakan sulitnya orang Rusia mengumbar senyum atau tertawa akibat latar belakang  sejarah mereka yang lama menghadapi agresi bangsa lain. Akibatnya, masyarakat Rusia memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Itulah sebabnya, tertawa atau tersenyum bagi bangsa Rusia mahal harganya. Dia tidak diperuntukkan bagi banyak orang.

Yang menarik, agak berbeda dari bangsa Rusia, bangsa Indonesia biarpun sudah mengalami banyak peristiwa sejarah kelam, masih suka melempar senyum dan tertawa sebagai tanda keakraban. Kurang afdol bagi masyarakat kita ketika pertama kali bertemu orang lain tanpa memberikan senyuman. Bahkan bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi, koruptor misalnya, masih bisa tersenyum manis ketika di meja hijau.

Di Jepang, sulit menemukan seorang koruptor mengumbar senyuman setelah kedapatan melakukan kejahatan konstitusional. Di sini, saking ramahnya kita, sulit menemukan wajah menyesal bagi kasus yang sama seperti pejabat-pejabat publik di Jepang.

Memang sudah budaya kita ramah kepada orang lain. Kadang sikap itu diwujudkan melalui senyuman atau bahkan tertawa sebagai tanda saling menghormati.

Tapi walaupun tertawa merupakan hak seluruh manusia, bahkan disebutkan oleh seorang ahli jiwa merupakan bagian dari enam emosi dasar manusia, secara kultural setiap kebiasaan masyarakat nyatanya memiliki ekspresi yang berbeda-beda saat melakukannya. Bahkan ada bangsa-bangsa yang dikenal humoris akibat seringnya masyarakat mereka tertawa.

Kaum perempuan di masyarakar Barat misalnya, cenderung tertawa lepas tanpa segan menjadi sorotan banyak orang. Di ruang publik perempuan-perempuan Barat tertawa riang tanpa terbebani tabu-tabu masyarakat. Ini tentu berkaitan dengan  kemajuan bangsa Barat di dalam mengakomodir kebebasan individu di ruang publik.

Sedangkan di masyarakat Timur, perempuan masih kesusahan menyalurkan kebahagiaannya di depan umum. Tertawa riang bagi perempuan di keramaian sulit dilakukan akibat tradisi masyarakat yang masih kuat. Dikaitkan dengan budaya patriarki, tertawa lepas bagi perempuan masih dianggap tidak layak dilakukan.

Itulah sebabnya, bagi perempuan hanya untuk tertawa saja membutuhkan ruang khusus seperti di belakang dapur, di dalam kamar, atau perkumpulan di antara mereka agar dapat tertawa lepas. Bisa jadi, tindakan membicarakan orang melalui gosip yang umumnya dilakukan perempuan akibat dari domestifikasi yang mereka alami. Dengan kata lain, gosip yang seringkali diselingi tertawa lepas, bisa jadi imbas dari sempitnya ruang gerak mereka di masyarakat.

Dalam dunia seni peran, bahkan perempuan juga mengalami hal yang sama. Film-fim horor misalnya, adalah ilustrasi yang bisa mewakili bagaimana perempuan hanya bisa tertawa apabila ia telah mangkir dari kehidupannya. Dia hanya bisa tertawa pasca kehidupannya. Itulah sebabnya, hantu-hantu perempuan selalu identik dengan tertawanya yang khas melengking. Cara tertawa yang mengekspresikan kurang leluasanya ia di masa hidup, mungkin.

Terlepas dari rumitnya perempuan mengakses ruang publik untuk tertawa, dalam dunia humor tanah air, kita sering mendengar frasa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Warkop DKI adalah ikon yang mempopulerkan frasa ini melalui film-film yang mereka bintangi. Dilihat dari konteks frasa ini, Warkop DKI menjadikan humornya sebagai jangkar ingatan atas rezim otoriter yang memasung kebebasan berekspresi dan kebebasan  berpendapat. Tertawa sekalipun.

Hubungan tertawa dan kekuasaan kadang tidak seimbang, dan sering kali malah bertentangan. Literasi sufistik mengenal Nasruddin Khoja sebagai sosok bahlul yang pernah hidup dengan tingkah laku gilanya. Nasruddin Khoja sering ditempatkan sebagai antitesa dari rezim yang sering menjadi sasaran kritik leluconnya. Melalui kecerdikannya yang kerap mengundang tawa tersemat daya dorong yang memberikan suatu pengertian kritis mengenai situasi yang dialami .

Sosok yang kadang diasosiasikan dengan Abu Nawas ini juga muncul dalam kisah sastra klasik Seribu Satu Malam. Dikisahkan Abu Nawas cum penyair menggunakan lelucon menjadi orang gila untuk menolak wasiat ayahnya bekerja sebagai hakim di bawah pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid yang otoriter.

Di tanah air, melalui kisah pewayangan kita mengenal sosok Semar. Semar diriwayatkan adalah jelmaan dewa yang menyamar sebagai rakyat jelata dengan rupa jelek sekaligus bertubuh pendek dan gemuk. Sebagai orang biasa Semar memiliki perkataan dan tingkah laku di luar dari kebiasaan umum. Walaupun dia adalah rakyat jelata, di kisah Mahabrata maupun Ramayana, Semar sebenarnya adalah pengasuh dan penasehat para ksatria. Yang unik, ketika ia memberikan petuah kepada para ksatria, seluruh nasehat dikemasnya melalui bahasa humor.

Yang lebih dekat dari ingatan, kita mengenal juga Gus Dur sebagai sosok yang sering menggunakan guyonan untuk menyampaikan buah pikirannya. Seperti sosok Semar atau Abu Nawas dalam dunia tasawuf, Gus Dur menggunakan strategi bahasa melalui humor untuk memobilasi daya kritis masyarakat Indonesia. Walaupun sering kali bernada sarkastik, guyonan Gus Dur kadang membuat panas telinga orang-orang yang tidak mampu menangkapi inti pesannya.

Jika dalam kekuasaan tertawa malah dianggap perilaku yang menyebalkan, seperti yang diharapkan dari kisah-kisah Nasruddin Khoja atau Abu Nawas, tertawa justru adalah tanda sehatnya jiwa. Tentu tertawa di sini adalah jenis tertawa yang lahir dari lapang dan terbukanya jiwa. Dengan kata lain selain menangis, tertawa dalam hal ini menjadi mekanisme jiwa untuk merestart ulang keadaannya agar kembali ke keadaannya yang semula.

Di titik ini sebenarnya kita perlu memahami pentingnya tertawa. Menurut penelitian selain mampu menurunkan kalori, tertawa juga dapat menjaga sistem pikiran agar tidak mudah stres dan meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit. Apalagi, di masa sekarang, begitu banyak masalah yang bisa membuat orang mengalami stres berkepanjangan.


Syahdan, konon dalam dunia tasawuf, orang-orang yang sering kali banyak guyon, atau mudah tertawa adalah tanda-tanda dari tingginya makam spriritualnya. Di sini kita bisa mengerti kenapa para sufi sering dikatakan gila akibat guyonannya yang mengundang tertawaan.

---

Telah dimuat sebelumnya di Kalaliterasi.com