Selasa, 15 Mei 2018


FILSUF. Bagi Alain Badiou –seorang filsuf marxis- ikhtiar dari filsafat adalah hasratnya untuk menemukan kebenaran. Tiada filsafat yang mendakukan dirinya selain daripada ketertarikannya mencandrai kebenaran.

Menurutnya, dalam hasrat kebenaran, filsafat memiliki 4 elemen; yang pertama adalah revolt (pemberontakan), kedua, logis (logika), berturut-turut kemudian, universalitas, dan risiko.

Kisah Socrates kisah seorang revolusioner. Ia menjadi sosok yang menggerakkan pemberontakan. Filsafat di tangan Socrates menjadi medium kritik bagi situasi yang dihadapinya saat itu. Dia menjadi media pembebasan dari alam berpikir mitologi yang dipenuhi sosok dewa-dewa.

Artinya, mitos dan sosok dewa-dewa yang menopang alam berpikir masyarakat Yunani menjadi momen pemberontakan bagi Socrates. Kebudayaan dan tradisi Yunani yang berwatak irasional, dengan kata lain adalah medan Socrates mengubah cara pandang masyarakat Yunani menjadi jauh lebih merdeka.

Itulah sebabnya, tiada filsafat yang tidak mengandung perlawanan kepada keadaan sebelumnya. Inti filsafat dalam hal ini adalah konfrontasinya dengan pikiran-pikiran umum.

Filsafat dari dimensinya ini adalah pernyataan-pernyataan yang merevisi paradigma lama dengan mengajukan pandangan baru melalui kekuatan dimensi yang kedua: logika.

Logika filsafat Socrates adalah kekuatan logis dari subjektivitas rasio yang menjadi penopang seluruh argumentasinya. Ia tidak saja menjadi sumber pengetahuan, melainkan menjadi alat praktis yang berkemampuan membebaskan masyarakat dari kekuatan yang menyesatkan pikiran.

Tanpa elemen logika, filsafat di tangan Socrates tidak jauh berbeda dengan cara berpikir lama. Sebaliknya, melalui penalaran logis, menandai pikiran Socrates yang koheren dan efektif. Dengan begitu kebenaran filsafat menjadi terang dan gamblang. Di hadapan logika, tradisi diemansipasi dari kesesatan-kesesatan berpikir.

Selain itu, otoritas tradisi yang selama ini ditopang melalui kekuatan mitos, melalui penalaran logis filsafat, memungkinkan terbukanya kemerdekaan berpikir daripada ketundukan terhadap tradisi tanpa dalil-dalil yang kuat.

Dengan begitu paras filsafat yang logis dengan sendirinya mengandaikan dirinya sebagai ajakan universal kepada kebenaran. Ini artinya, setiap pernyataan filosofis mempertanggungjawabkan dirinya sebagai ajaran yang universal. Melalui bahasa, setiap kebenaran pada dirinya adalah kebenaran bagi setiap orang.

Universalitas filosofis sebagai pernyataan umum setara dengan kedudukan logika yang menjadi medium penalaran. Denngan kata lain ini sekaligus hujjah bagi dirinya yang merupakan hak bagi setiap orang ketika mengedepankan akal sehatnya. Universalitas filsafat, singkatnya adalah jalan bagi tercapainya kebenaran fundamental sebagai standar umumnya.

Artinya, sejauh manusia memaksimalisasi peran akal sehatnya, maka dengan sendirinya akan melingkupi universalitas filsafat itu sendiri. Dengan rumus yang sama, universalitas filsafat seluas pula dengan akal sehat manusia.

Terakhir, risiko adalah implikasi nyata dari kebenaran filsafat. Setiap sudut pandang yang diambil dari cara berpikir filsafat, dengan sendirinya memiliki konsekuensi berupa risiko semenjak berkonfrontasi dengan keyakinan umum.

Dalam kisah Socrates, konfrontasi filosofisnya membawanya pada risiko berupa tidak adanya kepastian mutlak selama penggalian filosofisnya masih berjalan. Risiko filsafat dalam hal ini adalah implikasi dari kebenarannya yang mengubah sudut pandang hingga membuatnya dalam keadaan yang terus bergerak. Dengan kata lain, melalui penyelidikan mendalam, secara epistemologis, kebenaran filsafat adalah sesuatu yang terus bergerak dan berubah. Risikonya adalah seseorang dituntut berkemampuan menerima segala jenis kemungkinan-kemungkinan yang menyertainya.

Secara sosial, Socrates menghadapi kecaman dari keyakinan umum yang menganggapnya sebagai orang yang patut dikucilkan. Ia mengalami pengasingan sebagai risiko sosial akibat menanggung universalitas filsafatnya. Bahkan, risiko Socrates yang paling utama dari kebenaran filsafatnya, adalah menanggung kematian.

Syahdan, menurut Alain Badiou, di era kontemporer, hasrat kebenaran filsafat mengalami empat tantangan sekaligus melalui empat dimensinya: dunia yang terspesialiasi melalui diferensiasi sosial (pluralisme), penyebaran informasi yang tidak koheren satu dengan lainnya (nonlogis), dunia yang menyediakan kebebasan sebagai prinsip kehidupan (kemustahilan pemberontakan), dan keengganan masyarakat mengambil risiko kebenaran dengan memilih hidup mapan (risiko). Empat tantangan ini, menurut Alain Badiou mesti segera diselesaikan untuk mengubah keadaan filsafat yang semakin kehilangan relevansinya. Lalu, bagaimanakah tugas filsuf itu sebenarnya?


Selasa, 08 Mei 2018


ALIENASI. Siapapun ketika menjadi buruh, ia kehilangan kebebasan hakikinya. Buruh adalah warisan panjang dari zaman yang timpang. Ia adalah narasi orang -orang yang kalah. Orang-orang yang tercerabut kemerdekaannya.

Sudah semenjak lama ketika roda sejarah berputar: budak, hamba sahaya, dan kini kelas pekerja, diteruskan ambisi suatu golongan masyarakat yang mensegregasinya menjadi golongan-golongan. Dari sejarah demikian itu, buruh dipekerjakan, dikuasai, dan dihisap melalui suatu aktivitas kerja.
Tapi, kemerdakaan bukanlah berkah bagi kelas pekerja. Dengan kata lain, ia bekerja bukan dalam keadaan yang sejati. Tidak dalam keadaan merdeka.

Marx membedakan, pekerjaan yang merdeka itu karena didorong oleh suatu ikhtiar yang bebas. Tanpa tekanan dan intimidasi. Sedangkan buruh di bawah sistem kapitalisme menjadi mahluk determinis. Ia bekerja atas dasar tekanan dan paksaan.

Itulah sebabnya, kerja di bawah bayang-bayang kapitalisme justru tidak manusiawi. Ia menjadi proses alienatif. Kerja yang sejatinya sebagai realisasi kemanusiaan akhirnya berubah menjadi momok yang eksploitatif.

Pertama, ia tercerabut dari hasil kerjanya. Seorang pekerja sepatu, sehari-hari menghasilkan sepatu. Di pabrik-pabrik ia mengeluarkan satu-satunya yang dimilikinya: tenaga. Dari itu tercipta sepatu yang sehari-hari dijual pabrik di etalase-etalase. Namun, sepatu itu bukan miliknya, walaupun itu lahir dari tangannya.

Sepatu itu pada akhirnya bukan lagi materi yang padat. Bukan lagi seperti semula sebagai bahan-bahan yang disentuh tangannya. Ia, kata Marx, tiba-tiba "menguap begitu saja di angkasa". Kapitalisme-lah yang mentransformasikannya: semula hasil pekerjaan sang buruh, tapi dia "menguap" di etalase pasar.

Kedua, sang buruh menjadi manusia yang kehilangan dimensi sosialnya. Waktunya banyak ia berikan untuk pabrik. Selama lebih dua belas jam ia tak bisa menikmati waktu senggangnya. Ia tak bisa bersosialisasi sebagai anggota masyarakat: berinteraksi, berbelanja, jalan-jalan, menonton film, liburan, sekolah, dlsb. Singkat kata, ia menjelma mahluk asosial. Terasing dari lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya akibat dua kenyataan di atas, sang buruh teralienasi dari dirinya sendiri. Dia tidak mampu merasakan produk kerjanya sendiri lantaran sistem jual beli pasar mentransformasikan sepatu yang dibuatnya menjadi lebih mahal dari upah yang diterimanya. Manusia yang sejatinya mahluk sosial, akibat jam kerja padat dan panjang, membikinnya berjarak dari hakikat dirinya. Dia menjadi asing atas dirinya sendiri.

Kerja macam demikian di era modern menjadi mesin raksasa yang menggerakkan sejarah. Di pabrik-pabrik, buruh bekerja bersebelahan dengan mesin-mesin yang mengambil alih tenaga manusia; di kantor-kantor: para karyawan bekerja mengolah berkas-berkas melalui meja birokrasi berlapis-lapis; di institusi-institusi pendidikan, tenaga pengajar memeras otak melalui mesin kurikulum; dokter-dokter, guru-guru, jurnalis, para hakim, sastrawan, pengacara, pramugari, seniman, programer dlsb. (profesi yang belakangan dikatakan Antonio Negri sebagai buruh immaterial), ketika semuanya hanya “menukarkan” keahlian dan tenaga di bawah sistem akumulasi modal, maka di situ-lah hak milik lenyap diambil alih “sistem raksasa” yang disebut kapitalisme.

Syahdan, kerja di hari ini tidak lagi menjadi medium maksimalisasi nilai kemanusiaan, justru sebaliknya: modal.

Modal dengan begitu adalah pokok tapi juga sekaligus momok. Dia berfungsi melipatgandakan kekayaan, alat tukar, tapi ia juga sebagai alat eksploitasi.

Dalam sejarah kontemporer, modal bertransformasi menjadi informasi: sesuatu yang beberapa dekade belakangan menggerakkan, menghubungkan, dan menguasai interaksi orang-orang, menjadi modal utama ketika dia disebut “kecerdasan umum”. Kecerdasan umum (general intellect) seperti yang dibilangkan Marx adalah kecerdasan kolektif yang diprivatisasi lantaran dia menjadi standar universal mengetahui segala jenis pengetahuan teoritis dan praktis tentang sesuatu.

Itulah sebabnya misalnya, Mark Suckerberg melalui perusahaannya banyak meraup keuntungan bukan lantaran aplikasi yang diciptakannya, melainkan karena facebook menjadi standar universal dalam berkomunikasi. Dengan kata lain, ia merebut segala ruang komunikasi dan memonopoli jalur informasi dari jenis aplikasi sepertinya. Dia menguasai pengetahuan dan melegitim “hak kekayaan intelektual” dari segala yang berkaitan dengan facebook.

Pendidikan sebagai tempat pengetahuan kolektif, di dalam skema kapitalisme kontemporer, menjadi bagian dari skema terbentuknya “kecerdasan umum”. Ia bertindak sebagai wadah yang memproduksi bahasa, simbol, dan teks dalam rangka tindak lanjut dari produksi kapitalisme yang semula bersifat material menjadi simbolis. Melalui fungsi ini, intitusi pendidikan menjalankan fabrikasi menyiapkan tenaga-tenaga kerja ahli sesuai pekerjaan perusahaan-perusahaan.

Inilah juga mengapa ilmu pengetahuan dalam skema kapitalisme pada akhirnya diprivatisasi melalui intitusi-intitusi pendidikan (inilah dasar mengapa tenaga ahli melalui ijazah menjadi indikator pekerjaan).

Belakangan, pendidikan justru berubah mengenaskan. Alih-alih membebaskan manusia dari “situasi asal” menjadi “situasi merdeka”. Di saat yang lain, ia menjadi sumber kecemasan: biaya yang tinggi, kurikulum yang padat, penyelenggaraan yang semrawut, tenaga pengajar yang tidak kontekstual, penelitian-penelitian pesanan dan sekolah-kampus yang jadi elit.

Ia dengan kata lain menjadi asing bagi orang banyak. Ia menjadi lingkungan privat. Bahkan, pendidikan akhirnya menjadi tidak membahagiakan.

Pendidikan dengan begitu, sama halnya dengan aktivitas kerja buruh yang mengasingkan dirinya. Murid-murid, mahasiswa-mahasiswa, di jam-jam belajarnya, seolah-olah buruh pabrik yang terasing. Ilmu yang diprivatisasi, mengasingkan dirinya dari ilmu yang tidak kontekstual. Ilmu lantaran diproduksi melalui “teks kekuasaan” kenyataannya membikin pembelajar tercerabut dari fenomena hidupnya sehari-hari. Ilmu menjadi tidak praktis.

Pada akhirnya, pendidikan melalui intitusinya menjadi “ruang publik” yang sama sekali tidak “publik.” Di dalamnya, nasib publik sama sekali samar-samar mulai hilang. Lantas justru menjadi menara gading. Terasing