Ruang Kudus di KLPI Makassar

Sabtu, 22 April 2017 ,

Kami tersentak kaget dengan penuturan Muhary Wahyu Nurba yang tidak dibayangkan sebelumnya, tentang kita kejamakan yang kehilangan banyak ruang kontemplatif di era kiwari. “Kita” saat ia berbicara dengan suaranya yang berat itu bukan saja ditujukan kepada peserta KLPI yang sudah menjadi rutin itu. Melainkan juga kepada masyarakat yang dikepung gaya hidup modern. Ya, orang-orang yang gila kerja, gila berbelanja, gila uang, gila jabatan, gila media sosial, gila politik, gila agama, dan entah gila apa lagi (Anda bisa menambahkan sesuka hati Anda di sini).

Sebenarnya, apa yang disampaikan Muhary hanya mengulang apa yang sudah banyak disitir scholar ilmu-ilmu sosial. Namun, melalui konteks pembicaraannya dalam kaitannya dengan sastra, terutama puisi, membuatnya memiliki konotasi yang baru, setidaknya menurut kami.

“Kita tidak akan lagi melahirkan Jalaluddin Rumi,” Ucap Muhary dalam kaitannya dengan hilangnya ruang permenungan kala ingin melahirkan syair-syair yang bernas. Kita tidak akan pernah lagi akan menemukan karya-karya sepuitis Rendra, dan sederet nama penyair yang disebut Muhary, yang samar-samar dalam ingatan kami. Tepat di bagian inilah kami kaget.

Kami mengira di pertemuan itu, penyair cum fotografer ini akan banyak mengajukan pemahaman dasar penulisan puisi, atau paling tidak pendasaran teoritik puisi sebagai karya sastra, atau sejarah puisi, atau mungkin juga bagaimana teknik menulis puisi bagi seorang penyair. Namun, seperti yang kami katakan, dugaan kami meleset. Muhary berbicara jauh lebih dalam dari dugaan kami. Sesuatu yang kami sendiri alami, dan tidak dibayangkan sebelumnya. Ruang kontemplatif yang banyak dilupakan orang-orang masa sekarang.

Era modern era yang massif menampakkan segalanya ke permukaan. Budaya pamer menjadi tren. Apa yang dikonsumsi dipamerkan. Apa yang dipakai dipamerkan. Apa yang dimakan dipamerkan. Apa yang dibeli dipamerkan. Apa yang difoto dipamerkan. Bahkan hal yang seharusnya lebih bernilai jika menjadi rahasia, ibadah pribadi misalnya, dipamerkan. Melalui media sosial, semua itu akhirnya menjadi tontonan. Artifisial belaka.

Budaya pamer ini akhirnya membuat dunia pengalaman manusia menjadi super sibuk. Bising dan ramai dengan permukaan: gambar-gambar, pencitraan. Akhirnya yang “permukaan” menjadi kebiasaan, dan akhirnya menjadi tradisi.

Akibat sering pamer dan lebih mementingkan “pencitraan”, “kedalaman” akhirnya diabaikan, atau terlupakan. Mungkin hilang dengan sendirinya. Terkait kepenulisan puisi, “kedalaman”, “kesunyian” menjadi musykil dialami. Sekarang, hampir semuanya dipenuhi keramaian. Bahkan di tempat paling privat pun kita masih terhubung dengan “dunia luar”. Apalagi kalau bukan melalui gadget. Sedikit-sedikit berbunyi, entah dari siapa, atau grup apa lagi yang lagi ramai.

Dan, malangnya, massifnya ruang sepi yang diinvasi jaringan internet melalui gawai, menandai juga semakin keponya kita untuk tidak kuat menahan godaan untuk tidak tidak memerhatikannya.  Sedikit-sedikit tangan kita tidak kuat menahan godaan hasrat untuk mengintip info atau apa lagi yang masuk di gawai. Toh kalau bisa menahan, sampai kapan kita bisa menolaknya? Paling lama mungkin dua menit (ini tergantung pengalaman Anda).

Kami kira ruang permenungan bukan dibutuhkan bagi penyair saja, tapi bagi setiap kita yang semakin ke sini makin “kalap”. Ruang permenungan memang penting bagi seorang penyair ketika merefleksikan dirinya dan segala soal manusia ketika melahirkan syair-syairnya. Namun, tidak kalah penting juga bagi siapa saja yang masih ingin menjaga kewarasannya di era “gila” ini.

Kami pribadi harus mengakui, semakin kasifnya waktu yang mampu kami “gunakan” di antara kesibukan sehari-hari. Sementara kalau mau menyelami “kedalaman”, waktu juga menjadi bagian penting selain penghayatan atas ruang kita yang sekarang jadi super sesak.

Di pertemuan itu, sesaat Muhary tiba, dengan logat khas  Makassarnya mengeluhkan suasana kota yang semakin sesak dengan keramaian. Di perjalanan ketika menuju tempat kegiatan, butuh waktu yang panjang dan lama yang tidak sesuai dengan lamanya waktu berdasarkan jarak sebenarnya. Ketika hanya untuk sampai ke lokasi diskusi, Muhary mengatakan butuh berjibaku denga padatnya kendaraan yang mengakibatkan kemacetan.

Penghayatan atas waktu akibat keramaian dan kecepatan yang menjadi ciri sekaligus momok zaman ini mengakibatkan masyarakat menjadi apa yang dikatakan Muhary dipertemuan itu sebagai damned people. Sadis, Bung!

Merosotnya ruang kontemplatif, atau dalam istilah Muhary sebagai waktu kudus, berimplikasi kepada kesadaran manusia yang tidak terhubung dengan “kenyataan yang sebenarnya”. Orang yang baru saja ikut bermain peran dalam film Silariang ini mencotohkannya dengan tindakan seseorang terhadap buku. “Kita banyak membaca buku, tapi jarang yang mengunyahnya”. Ini mirip-mirip konsep kesadaran Edmund Husserl atau Heidegger, misalnya, yang membilangkannya sebagai hubungan intensionalitas yang menghayati fenomena tanpa mengalami sekat terhadapnya.

Kami teringat dengan peribahasa Bugis, taro ada, taro gau. Simpan kata, simpan perbuatan. Manusia Bugis, melalui peribahasa itu, jika mengucapkan sesuatu dalam ikrar, maka pantang untuk tidak dilakukan. Orang-orang bilang, konsisten. Apa yang diucapkan itu pula yang akan dilakukan, atau sebaliknya, yang dilakukan sudah pasti realisasi dari ikrar yang sudah diucapkan. Dalam konteks contoh buku Muhary tadi, bisa dibilang, kita ini tanpa disadari tidak betul-betul “mengalami” bahasa.

Itulah poin besarnya, pengalaman atas bahasa. Kami kira itu yang menjadi hikmat dalam diskusi kami sore itu. Penyair atau orang yang berkeinginan menemukan syairnya yang dahsyat mesti “mengalami” bahasa yang diliterasikannya. “Ibaratnya hati kita yang kita taruh dalam tulisan kita”, ucap Muhary sambil menggerakkan tangannya dari dada ke buku puisi Airmatadarah karangan Sulhan Yusuf, owner Paradigma Intitute tempat kami bernaung.

Kami kira ini sindiran halus dari Muhary: banyak orang-orang menulis syairnya, namun semuanya itu berjarak dari dirinya. Dengan kata lain, apa yang disyairkannya, bukan lahir dari pengalamannya, dari hatinya. Itulah sebabnya, kata Muhary syair macam demikian tidak dalam, tidak menggugah batin dan kesadaran pendengarnya.

Inilah barangkali kalimat yang kami harus renung-renungkan dalam-dalam: pengalaman atas bahasa. Yang dalam kaitannya dengan ruang kudus tadi adalah usaha kita untuk mengalaminya melalui penghayatan dalam waktu dan ruang. Hanya melalui itu bahasa yang diliterasikan menjadi luar biasa. Bagi penyair, sajak-sajaknya besar kemungkinan sudah pasti menggugah sekaligus menggugat!

Di sore itu, kami memang dibuat kaget. Syair hanya permukaan bahasa, di balik itu ada proses kreatif penyair yang begitu banyak pengalaman fundamental yang dari situ lahir kata-kata yang arkaik, sekaligus dalam. Muhary memang tidak sedang berbicara di dimensi “permukaan”, sore itu terma “ruang kudus” begitu menghentak kesadaran kami yang selama ini beria-ria di hal-hal permukaan.

Begitulah pertemuan Minggu sore kemarin (April, 09, 2017), sekaligus menandai pertemuan ke-8 Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar yang sudah berjalan selama hampir dua tahun tanpa henti. Sampai waktu magrib tiba, dan setelah kelas bubar, “ruang kudus” bergiang-giang di kepala kami.

---

Terbit juga di Kalaliterasi.com

Pengalaman atas Bahasa

Kamis, 13 April 2017

Taro ada’ taro gau. Simpan kata, simpan perbuatan. Begitulah peribahasa Bugis menempatkan bahasa sebagai kesatuan antara perkataan dan perbuatan. Bahasa dengan kata lain, dalam falsafah Bugis, tidak terbelah saling meniadakan antara keduanya. Apa yang sudah diucapkan, sudah pasti dilakukan. Sebaliknya, apa yang dilakukan sudah pasti tidak melenceng dari perkataan yang sudah diucapkan. Konsistensi. Itu yang pokok. Itu yang prinsipium.

Dalam konteks pengalaman, manusia bugis, belum mengenal pemisahan antara teori dan praktik seperti yang diketahui manusia modern masa kini. Tidak adanya pemisahan antara perkataan dan praktik, mengakibatkan perspektif yang bulat tentang realitas. Artinya, apa yang diucapkan kemudian dilakukan, selalu ditilik dari satu ruang yang sama.

Ruang yang sama itu berarti pula mengandaikan tingginya “dunia kata” yang harus dijunjung melalui perbuatan. Secara etik, moral orang bugis bersandar dalam “dunia kata” ini. Ketika “dunia kata” tidak mampu direalisasi dalam pengalaman kongkrit, maka pada titik itulah secara sosial orang-orang bugis akan merasa malu.

Dunia kata, selain tinggi juga sakral. Sakralnya kata dapat ditemui seperti dari padanan kata Logos, Yunani Kuno. Logos berarti ilmu atau sabda, kata. Dalam khazanah Islam, ilmu berwujud suci dan melalui itu semesta kata lahir. Sebagaimana dalam teologi Kristiani, Tuhan pertama kali hadir melalui sabda. Wahyu dalam Islam juga dimediasi kata. Melalui hubungan itulah kata sama sucinya dengan ilmu.  

Itulah sebabnya, “taro gau” seluas “taro ada”, kesucian kata terletak juga dalam realisasi perbuatan. Bahkan, ketika kata telah dituturkan, pantang mundur untuk tidak dilaksanakan. Pengalaman atas bahasa inilah, yang menyebabkan kata bukan sekadar bahasa yang hanya diucapkan, tapi harus disetubuhi melalui realisasi perbuatan atau tindakan.

Dalam khazanah filsafat Islam, dikenal konsep ilmu yang menihilkan jarak antara bahasa(kata) dan konsep. Ilmu kehadiran (ilmu huduri, knowlegde by presence), seperti yang dianut kaum sufistik, tidak lagi memilah-milah pengalaman atas kenyataan berdasarkan pemisahan bahasa dengan praktik yang diturunkan dari konsep itu sendiri.  Subyek-obyek dalam bahasa menjadi nihil akibat pengamalan atas pengetahuan itu telah evident. Terang dan tunggal.

Ketika konsep ini diafirmasi ke dalam filsafat barat, setidaknya pemakanaan yang sama ditemukan dalam pemikiran Heidegger. Pengetahuan menurut Heidegger tidak mengakui dualisme antara subjek pengetahuan dan objek pengetahuan. Dalam bahasa, subjek dan objek pengetahuan adalah satu kesatuan yang mengarah langsung kepada fenomen. Kesadaran macam ini disebut Heidegger sebagai kesadaran intensionalitas.

Yang menarik dalam pemikiran Heidegger adalah pengakuannya terhadap puisi sebagai pengetahuan paling murni. Puisi sangat berbeda secara fundamental dengan jenis pengetahuan lain. Bagi Heidegger, puisi mampu membawa manusia kepada pemahaman yang paling otentik dan mendalam terhadap sesuatau dalam kehidupannya.

Puisi sebagai pemahaman otentik, dinyatakan Heidegger hanya mungkin dicapai jika manusia (dalam konteks pemikiran Heidegger, manusia disebut dengan terma khas bentukan Heidegger sendiri: Das Sein) mengalami keadaan yang disebutnya situasi destitute time.

Destitute time, bisa dibilang adalah situasi “kekosongan atas kekesongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya. Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri.

Itulah sebabnya, banyak ditemukan karya literasi berbentuk syair lebih dominan memengaruhi pembacanya akibat dihasilkan dari kedalaman pengalaman penyair yang mengalami situasi destitute time seperti dalam konsep Heidegger. Dengan kata lain, bahasa yang datang dari pengalaman murni, yang sublim, yang kontemplatif, jauh lebih dahsyat dari bahasa yang lahir ala kadarnya.

Chairil Anwar, misalnya, sajak-sajaknya yang mempelopori kesusastraan Angkatan 45, sedikit banyaknya didorong dari pengalaman bahasanya yang hidup dengan cara yang tak biasa. Bahkan pengalaman-pengalaman hidupnya pasca berpindah ke Jakarta, dibetot dengan nuansa kebebasan, kreatifitas, dan tanpa sekat-sekat. Maman S. Mahayana dalam Legenda Charil Anwar, menyebutkan bahwa sajak-sajak Chairil sarat dengan refleksi atas pandangan, sikap, dan pengalaman hidupnya. Pengalamannya adalah sajaknya itu sendiri.

Sekarang, era yang massif digerakkan nalar instrumental (pengetahuan yang digerakkan akal hanya sebatas alat yang menghamba ke dalam kekuasaan intitusi birokratis-teknoratis) malah mengubah dunia jauh lebih “gila” melampaui penafsiran kelompok mazhab Frankfurt. Era kiwari, pengalaman atas bahasa yang menjelma ke dalam konsep-konsep, gagasan-gagasan, sistem-sistem, intitusi-institusi, hukum-hukum, dlsb., hanyalah  pengetahuan yang bergerak di tingkatan “permukaan” dibanding “kedalaman”.

Perubahan pengalaman manusia dari kapitalisme industrial menjadi kapitalisme libidinal, hancurnya kenyataan ril atas simulakrum, berubahnya tatanan kenyataan menjadi hyper-realitas dan citra-citra semu melalui media massa, menjadi sebab dunia berubah total dan berefek kepada tatanan mental manusia yang tercerabut dari eksistensinya. Fenomena fantasmagoria informasi, seperti yang dibilangkan Baudrillard, misalnya, membuat masyarakat dikepung informasi yang serba pesat dan cepat yang mengakibatkan hilangnya ruang reflektif.

Muhary Wahyu Nurba, penyair asal Makassar, ketika diskusi yang diadakan di Paradigma Institute, sempat berkomentar tentang betapa mirisnya keadaan hari ini yang kehilangan waktu kontemplatif. Imbas, kemajuan teknologi informasi, apa yang ia istilahkan sebagai ruang kudus, tercerabut dari pengalaman sehari-hari melalui pesatnya rembesan informasi yang tak bisa ditangguhkan. Akibatnya, masyarakat menjadi orang-orang yang mengalami krisis eksistensi.

Dalam konteks pengalaman bahasa, masyarakat mengalami penjarakan dengan pengalamannya yang ugahari. Pengalaman sehari-hari dan bahasa akhirnya menjadi dua dimensi yang terpisah. Bahasa akibatnya menjadi banal, kering pengalaman, dan sebaliknya, pengalaman kehilangan dasar narasinya melalui bahasa.

Itulah sebabnya, Muhary mengatakan di zaman sekarang sulit lagi melahirkan syair-syair seperti yang pernah dituliskan Jalaluddin Rumi. Orang-orang seperti Chairil Anwar, Rendra, dan bahkan Wiji Thukul. Dunia pengalaman manusia telah penuh sesak dengan berbagai macam atribut dan kepentingan sehingga kehilangan karakternya yang sublim dan subtansial.

Era kiwari, bahasa yang dilisankan atau diliterasikan, sudah banyak mengalami “erosi” atau pendangkalan pemaknaan akibat tidak diliputi pengalaman atas bahasa. Bahasa akhirnya menjadi dangkal, dan secara etik tidak lagi mencerminkan makna yang dikandungnya. Bahasa hanyalah bahasa sejauh dia dilisankan, tapi tidak mampu menjadi narasi yang menopang dan ditopang pengalaman.


Akhir kata, idealitas yang seringkali ditunjukkan dalam bahasa, entah itu berakar dalam pengalaman politik, budaya, ekonomi, dan bahkan agama, di era terjadinya erosi pemaknaan, citra-penampakan-permukaan, hanyalah kata-kata yang tercerabut dari pengalaman. Jika melalui bahasa,  dunia dipresentasikan, kini bahasa bukanlah apa-apa selain kata-kata tanpa arti.

Menyoal Negara Islam

Selasa, 11 April 2017 , ,

Pasca pidato Jokowi dalam peresmian Tugu Titik Nol Peradaban Islam Nusantara  di Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, tentang pemisahan politik dengan agama, akhir Maret lalu, berakibat banyak reaksi. Tiba-tiba diskursus hubungan agama dan politik, atau agama dan negara menguat kembali. Sesungguhnya perdebatan ini berakar panjang dalam sejarah Indonesia. Mulai dari memanasnya perdebatan Soekarno dengan M. Natsir, dalam sidang BPUPKI, piagam Jakarta, hingga pada sidang Majelis Konstituante pasca kemerdekaan.  Secara umum wacana relasi agama dan negara terbelah menjadi dua kubu, yakni nasionalis sekuler dengan nasionalis agama.

Mengapa mesti negara Islam   

Apabila menelisik asumsi-asumsi agama sebagai dasar negara, berangkat dari pengalaman historis Rasulullah ketika mendirikan negara-kota Madinah pasca hijrah. Pendasaran ini bukan saja menjadi ideal type bagi kelompok muslim yang ingin mendirikan negara agama, melainkan juga ditopang dengan sejumlah ayat-ayat yang menjadi dalilnya.

M. Natsir, misalnya, mendakukan pendasarannya melalui ayat “Tidaklah aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku” sebagai dalil ideologi Islam bahwa semua perilaku manusia adalah hanya untuk menyembah kepada Tuhan. Menurutnya, urusan kenegaraan merupakan bagian intergral di dalam risalah Islam. Bahkan, Natsir menganggap Islam adalah ajaran universal yang mengatasi negara sebagai alat untuk merealisasi ajaran-ajaran Islam.

Prinsip universalitas syariat Islam dianggap sebagai dasar utama mengapa negara harus berdasarkan aturan agama. Agama sebagai ajaran yang komperehensif dalam kaitannya dengan negara, memiliki posisi yang tinggi dibanding negara yang berurusan dengan wilayah profan. Selain itu pemosisian agama sebagai domain yang lebih tinggi dibanding agama secara tidak langsung adalah cerminan dari agama sebagai satu-satunya pandangan dunia yang siap pakai tinimbang bentuk pemikiran lain.

Diposisikannya agama sebagai satu-satunya pandangan dunia yang sah, juga didorong sejarah silam yang mengacu kepada zaman pemerintahan empat khilafah. Perspektif sejarah ini menjadi semacam garansi bagi kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam, untuk memberikan jaminan tidak akan muncul persoalan seperti dirasakan sekarang ketika negara Islam kelak berdiri. Cara pandang demikian, juga diperkuat hitung-hitungan mayor-minor yang mengartikan mendirikan negara Islam adalah kewajiban sebagai penjamin berlangsungnya kehidupan.  

Melampaui negara agama

Alam Indonesia adalah wajah yang majemuk. Beragam suku bangsa dan agama hidup di dalamnya. Juga, cara mengamalkan dan penghayatan atas nilai-nilai ideal berbeda-beda di pelbagai komunitas masyarakat. Itulah sebabnya, perdebatan mengenai dasar-dasar bernegara melalui sejarah panjang Indonesia, tidak pernah menyebut satu agama pun sebagai dasar utamanya.

Pancasila sebagai dasar negara, mesti dipahami sebagai semesta makna yang secara subtantif menyerap pelbagai nilai-nilai agama yang ikut membentuknya. Bahkan jika menyesapi butir-butir yang dikandung dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, bukanlah sila yang mengandung makna khusus bagi umat Islam, misalnya.  Bahkan butir-butir yang menguatkan sila itu mengandung makna kemanusiaan, kebebasan, penghormatan, kerukunan, tenggang rasa antara perbedaan keyakinan yang menjadi kenyataan sosial bangsa Indonesia.

Tidak diutamakannya salah satu agama sebagai satu-satunya dasar negara, dan tidak diterakannya secara eksplisit dalam pancasila, adalah cara pendiri bangsa ini menjadikan pancasila sebagai buah pikir yang melampaui konsepsi negara atas agama apa pun. Pelampauan ini merupakan pikiran radikal sekaligus cemerlang untuk menyatukan pelbagai ragam kepercayaan yang menjadi takdir bangsa Indonesia.

Belajar dari sejarah

Piagam madinah itu buah percakapan lintas iman yang didialogkan Rasulullah dengan mengakui eksistensi kelompok secara setara. Dengan kata lain, dalam konteks kenyataan sosial, piagam madinah tidak serta merta mengakomodir iman kalangan Islam saja, melainkan ikut serta mempertimbangkan eksistensi keimanan lainnya.

Jika mengacu kepada tesis Thomas Hobbes, Piagam Madinah itu sejenis kontrak sosial, undang-undang, atau hukum bersama yang diberadakan demi menjaga keutuhan eksistensi masyarakat. Disebut kontrak sosial karena masing-masing kelompok diakui dan ikut dipertimbangkan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Berdasarkan penjelasan di atas, tidak ada dasar pembenaran sosial negara harus didasarkan satu ajaran agama tertentu saja. Kejamakan yang dihadapi Rasulullah merupakan pertimbangan utama mengapa perlu ada aturan main bersama yang mesti dirumuskan dengan cara demokratis. Dengan kata lain, dalam konteks masyarakat modern Indonesia, Pancasila lebih menyerupai Piagam Madinah jika dilihat dari caranya dirumuskan. Sebagai panutan bersama, berarti mesti dilahirkan dari beragam sudut pandang yang mewakili kelompok masyarakat tertentu.

Yang prinsipium dari Pancasila, selain merupakan buah pemikiran yang melampaui sekat-sekat agama, merupakan perwakilan dari kamajemukan alam pikiran bangsa Indonesia yang beragam jenis kepercayaan, tradisi, dan pandangan dunia. Tidak juga dapat dikatakan jika Pancasila adalah pandangan dunia kebangsaan yang sekuler. Toh di dalamnya banyak diisi dengan semangat ketuhanan yang merupakan cerminan langsung dari kemajemukan masyarakatnya. Hatta, sebenarnya, apa yang kurang istimewa dari Indonesia?

---

Terbit di harian Radar Makassar, 11 April 2017

Kolektif blog